Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Kabur Aja Dulu

Tren warganet yang mengajak sesama anak bangsa menetap di luar negeri tersebut juga akibat dari situasi politik.

Editor: Sudirman
dok pribadi
OPINI - lham Kadir Dosen Unimen, Sekum MUI Enrekang 

Namun, mayoritas dari mereka melakukan rihlah dengan tujuan menuntut ilmu, berdakwah, hingga berjihad sebagaimana akan dipaparkan pada bagian ini.

Bahkan dengan budaya rihlah para ulama dari satu benua ke benua lain, dari satu negeri ke negeri lain, dari satu kota ke kota lainnya, dari masa ke masa pada akhirnya membentuk koneksi antar-ulama yang disebut Azra sebagai ‘jaringan ulama’ atau Networks of Ulama.

Perjalanan menuntut ilmu merupakan ciri khas para ulama, dan siapa pun itu, termasuk mereka yang memiliki kekuasaan, tokoh berpengaruh.

Bahkan hartawan bukan menjadi penghalang untuk rihlah mencari ilmu dengan menanggung kesulitan dan kepayahan tak terperih.

Umumnya mereka melakukan rihlah menuntut ilmu disesuaikan dengan tingkat usia masing-masing, jika sudah memadai, mereka akan rihlah meninggalkan keluarga, kampung halaman.

Bahkan negara karena ilmu dan pengetahuan tertentu demi kemaslahatan dan manfaat yang mereka harapkan sebagai bekal hidup. 

Dan orang yang mengadakan perjalanan dalam rangka menuntut ilmu, sungguh ia telah menghidupkan satu jejak dari jejak para salaf shalih yang telah ditinggalkan jauh oleh kebanyakan orang.

Mereka ini telah membangkitkan semangat orang lain, dan siapa pun yang menunjukkan suatu kebaikan pada orang lain, maka ia akan mendapat pahala seperti pahala pelakunya.

Dan seringkali pahala itu mengalir pada seseorang, sementara dia tidak menyadari dari mana hulu pahala itu berasal.

Rihlah atau perjalan para pemburu ilmu ke negeri-negeri atau daerah-daerah yang masyhur dengan keberadaan ulama dan budaya ilmu yang tinggi merupakan salah satu jalan  yang ditempuh oleh para kader ulama dari zaman ke zaman untuk menuntut ilmu.

Bahkan Nabi Musa sekali pun yang merupakan manusia paling berilmu dan berpengaruh pada zamannya masih saja diperintahkan oleh Allah untuk melakukan rihlah demi menimba ilmu kepada Nabi Khidir.

Dan para peneliti tidak sedikit yang menulis terkait kisah-kisah perjalanan para ulama dalam menuntut ilmu.

Khatihib Al-Baghdadi menulis, Ar-Rihlah fī Thalab Al-Hadīts, Abu Anas Majid Al-Bankani menulis, Rihlatul ‘Ulama fī Thalabil-‘Ilm, Azyumardi Azra menulis disertasi The Transmissions of Islamic Reformism to Indonesia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries, di Columbia University, lalu diadaptasi jadi buku dengan judul Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVII, dan berbagai penelitian sejenisnya.

Mari kita telusuri perjalan para ulama rabbānī menuntut ilmu, sebagai pelajaran dan sekaligus pemantik semangat bagi para kader ulama.

Renungan bagi yang telah berumur namun tidak sempat merantau untuk mencari ilmu, dan referensi untuk menata masa depan generasi umat ini agar supaya didorong dan dipaksa untuk keluar daerah, menyeberang pulau bahkan melintasi benua demi mencari posisi terhormat dan termulia, ulama pewaris para nabi. 

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved