Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Dari Perpustakaan hingga Organisasi

Keadaan ini menjadi antitesa dari organisasi dan komunitas literasi yang harusnya mesti giat mendorong bacaan-bacaan baik. 

Editor: Sudirman
TRIBUN TIMUR/Ist
OPINI - Andi Yahyatullah Muzakkir Founder Anak Makassar Voice 

Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir

Founder Anak Makassar Voice

TRIBUN-TIMUR.COM - Saat duduk di sebuah perpusatakaan pemerintah sambil mencari-cari buku bacaan yang menarik.

Melihat keadaan perpustakaan yang kering dengan buku-buku bacaan yang sudah usang.

Pengelola perpusatakaan juga bukan dari basic pustakawan murni, sehingga tidak tercermin sebagai pengelola buku yang giat membaca buku, sungguh sangatlah miris.

Keadaan ini menjadi antitesa dari organisasi dan komunitas literasi yang harusnya mesti giat mendorong bacaan-bacaan baik. 

Karena, perpustakaan yang disediakan oleh pemerintah tidak menjadi wadah yang cukup menarik untuk memantik minat baca.

Masalah utamanya adalah tidak tersedianya buku-buku terbitan baru yang relevan, buku pemikiran yang bisa menjadi dasar dan fondasi menghadapi dunia yang makin hari makin kompleks ini.

Sisi lain ketersediaan buku-buku berhaluan kiri juga tidak nampak wujudnya. Saya pindah dari rak buku satu dan yang lainnya, mencari-cari, membuka halaman demi halaman, melihat cover demi cover juga tidak kunjung menjumpai buku-buku yang termaksudkan.

Sebagai generasi muda, membaca semua jenis buku adalah suatu keharusan demi mematangkan sebuah pikiran.

Buku-buku dengan muatan pemikiran yang kritis penting demi mengukuhkan cara pandang kritis generasi muda agar mampu menjawab tantangan zaman.

Dalam fenomena ini juga menandakan bahwa pemerintah hari ini dalam kaitan dengan perpustakaan dan kebijakannya belum terlalu mapan dalam konteks pencerdasan.

Artinya, pemerintah belum mendorong pikiran-pikiran kritis oleh karena disebabkan tidak adanya stok-stok buku pikiran kiri dan buku-buku baru yang bisa memantik minat dan semangat baca. Kita harus mengakui bahwa perpustakaan milik pemerintah sangatlah usang dan tidak berdampak besar untuk pencerdasan.

Dari situasi yang saya alami ini, saya memilih pulang. Sebab tak ada buku bacaan yang menarik. Saya lalu melanjutkan sebuah bacaan di sudut taman kota ini. Buku bacaan yang cukup kompleks dan membuka cara pandang. 

Judulnya “Melawan Rezim Infrastruktur Studi Ekonomi Politik” karya Muhammad Ridha.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved