Opini
Kabur Aja Dulu
Tren warganet yang mengajak sesama anak bangsa menetap di luar negeri tersebut juga akibat dari situasi politik.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, Bagi seorang penuntut ilmu, apakah seharusnya ia belajar dengan satu orang ulama yang banyak ilmunya atau harus keluar daerah untuk belajar pada beberapa ulama lain?
Sang Imam menjawab, sehaurusnya ia keluar, belajar dari para ulama, dan berdiskusi serta belajar dari orang lain, jawabnya.
Dalam riwayat lain ia menambahkan, ‘Seharusnya ia keluar, belajar dari ulama Kufah, Bashrah, Makkah, Madinah, dan mendengar dari mereka!’.
Pernah juga Ahmad bin Hanbal ditanya, Apakah sepatutnya seseorang melakukan perjalan untuk mencari ilmu? Dia jawab, Benar, bahkan itu sangat perlu dilakukan.
Sungguh Alqamah bin Qais An-Nakha’i dan Al-Aswad bin Yazid An-Nakha’i—keduanya penduduk Kufah, Irak—mendengarkan langsung hadits dari Umar.
Mereka merasa tidak tenang sebelum melakukan perjalanan keluar untuk menemui Umar yang berada di Madinah, lalu keduanya mendengar hadits dari Sang Khalifah.
Seseorang bertanya pada Imam Asy-Sya’bi (w. 729 M), Dimanakah Anda mendapatkan ilmu ini semuanya?
Sang Imam yang melahirkan 500 ulama besar itu menjawab, “Dengan menjauhkan ketergantungan pada orang lain, melakukan perjalanan ke pelosok negeri-negeri, sabar seperti sabarnya benda mati, datang pagi-pagi bagaikan burung gagak”.
Maksudnya, ia hanya menggantungkan urusannya pada Allah, lalu rihlah ke berbagai penjuru negeri mencari ulama lalu berguru padanya.
Sabar atas segala cobaan seperti benda atau orang mati yang tidak mendengar perkataan buruk dan tidak melihat perbuatan tak elok dipandang mata, serta berpagi-pagi datang berguru sebagaimana burung gagak bergegas terbang mencari makan di waktu pagi.
Di lain waktu, untuk mendorong para muridnya agar rihlah mencari ilmu, ia berkata, Seandainya seseorang melakukan perjalanan dari ujung Syam ke ujung negeri Yaman, lalu ia menghafal kutipan satu kata saja namun dapat memberikan manfaat baginya untuk masa depannya, maka aku memandang bahwa perjalannya itu tidaklah sia-sia.
Yahya bin Ma’in, guru Ahmad bin Hanbal dan Imam Al-Bukhari, menegaskan bahwa ada empat golongan yang tidak akan mendapatkan kecerdasan, salah satunya adalah ‘laki-laki yang hanya menulis ilmu di daerahnya sendiri dan tidak melakukan rihlah untuk mencari hadits’.
Bapak Sosiologi ini menutup fasal rihlah dengan kutipan bertenaga, great quote, katanya, ‘Rihlah merupakan sebuah keniscayaan dalam mencari ilmu untuk mengambil manfaat.
Sangat jelas manfaat bertemu para guru dan para ahli. [Fa ar-rihlah lā budda minhā fī thalab al-‘ilm, li iktisāb al-fawā’id wa al-kamāl biliqā’ al-masyā’ikh wa mubāsyarah ar-rijāl].
Hanya Tuhan, Dzat yang menunjukkan jalan yang lurus kepada orang yang dikehendaki-Nya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Peneliti-Penulis-dan-Akademisi-Ilham-Kadir.jpg)