Opini
Inersia Hilirisasi?
Industri bergerak, investasi masuk, dan ekspor terjadi, namun rantai nilai tidak memanjang, keterkaitan antar sektor tetap lemah.
Oleh: Setiawan Aswad
Pemerhati Pembangunan
TRIBUN-TIMUR.COM - Hilirisasi kerap diposisikan sebagai jalan pintas untuk meningkatkan nilai tambah dan memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi.
Tidak berlebihan bila agenda ini dianggap sebagai prasyarat menuju Indonesia Emas 2045, dengan target pertumbuhan ekonomi nasional mendekati delapan persen.
Namun, ketika hilirisasi dijadikan mantra kebijakan, pertanyaan yang lebih mendasar justru kerap terabaikan: apakah struktur ekonomi daerah benar-benar bergerak menuju pendalaman industri, atau sekadar berputar dalam lintasan lama tanpa lompatan kualitas?
Dalam konteks ini, inersia hilirisasi dapat dimaknai sebagai kondisi ketika aktivitas ekonomi, investasi, dan bahkan pertumbuhan industri tetap berlangsung, tetapi gagal mengubah struktur nilai tambah secara signifikan.
Industri bergerak, investasi masuk, dan ekspor terjadi, namun rantai nilai tidak memanjang, keterkaitan antar sektor tetap lemah, dan basis manufaktur berteknologi menengah–tinggi tidak tumbuh.
Terdapat dinamika, tetapi tanpa akselerasi struktural. Gejala tersebut tercermin dalam perekonomian Sulawesi Selatan.
Data Badan Pusat Statistik Triwulan III 2025 menunjukkan struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini masih didominasi sektor berbasis bahan baku dan aktivitas domestik—pertanian, perdagangan, konstruksi, serta industri pengolahan dengan karakter relatif dangkal—yang secara agregat menyumbang sekitar 65 persen perekonomian daerah.
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto. Artinya, pertumbuhan lebih banyak ditarik oleh pasar domestik dan belanja fisik, bukan oleh lonjakan output industri bernilai tambah tinggi yang terintegrasi ke pasar luar.
Secara agregat, ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh 5,01 persen pada Triwulan III 2025 dengan PDRB harga berlaku mencapai Rp196,97 triliun.
Namun, struktur semacam ini tidak otomatis mencerminkan pendalaman industri. Konsumsi dan konstruksi dapat meningkat tanpa diikuti penguatan rantai pasok manufaktur.
Akibatnya, pertumbuhan ekonomi tetap rapuh karena bertumpu pada sektor dengan daya ungkit nilai tambah yang terbatas.
Indikasi inersia hilirisasi juga terlihat pada kinerja industri pengolahan dan perdagangan luar negeri.
Ekspor industri makanan tercatat tumbuh sekitar 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebaliknya, ekspor industri logam dasar justru turun lebih dari sembilan persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250911-Setiawan-Aswad-Pemerhati-Kebijakan-Publik.jpg)