Opini
Melawan Rezim Mencipta Seperti Pramoedya
Menyebut nama Pram atau Pramoedya Ananta Toer, sesuatu yang teramat penting dalam perjalanan bangsa ini.
Membahayakan rezim kala itu. Tapi, begitu kuatnya tekanan rezim pada penulis kala itu namun tetap lahir karya-karya terbaik seperti halnya karya Pram.
Satu pelajaran penting bahwa suasana belajar, daya tahan, perjuangan, kekuatan bacaan, diskusi pemikiran kala itu sangat kuat, dengan hadirnya karya terbaik ini.
Hal lain juga ditandai dengan polemik pemikiran yang terjadi pada tahun 1950an menjelang tahun 1960an, antara LEKRA dan Manifesto Kebudayaan.
LEKRA dengan pendekatan realisme sosialnya, sedangkan Manikebu dengan pendekatan karya harus universal.
Keduanya menjadi potret gerakan kala itu bahwa keragaman pemikiran dan intensitas berkarya dan mencipta begitu sangat besar. Dalam polemik itu tercipta suasana kompetisi tapi sisi baiknya adalah mendorong lahirnya kesadaran akan penciptaan dan karya-karya terbaik.
Lantas apa yang terjadi hari ini?
Kita tentu bisa belajar bahwa pada tahun 90an tekanan sangat kuat pada para penulis, seniman dan budayawan.
Tapi, tetap lahir karya-karya terbaik seperti halnya karya Pramoedya Ananta Toer “tetralogi buru.”
Artinya, tidak ada alasan untuk kita tidak berkarya dan menciptakan karya dalam lingkungan dan suasana bebas seperti hari ini.
Melainkan, bisa melahirkan banyak karya dengan kualitas yang bagus sebab suasana kebebasan hari ini tentu sangat berbeda dengan cengkraman dan tekanan rezim era Pramoedya Ananta Toer.
Apakah kita bisa mengoptimalkan berkarya dan mencipta karya pada hari ini? Rupanya ini adalah tantangan zaman kita.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.