Opini
Karangan Bunga untuk Menteri Keuangan, Suara Dosen Menanti Perubahan
Karangan bunga di ulang tahun Menteri Keuangan jadi simbol protes dosen atas stagnasi tunjangan dan ketimpangan kinerja. Mereka menanti perubahan.
Oleh: Andi Marlina Masdjidi
Analisis Anggaran Politeknik STIA LAN Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM – Selasa, 26 Agustus 2025, deretan karangan bunga berjejer di depan kantor Kementerian Keuangan.
Bukan sekadar ucapan ulang tahun ke-63 bagi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, melainkan simbol protes elegan dari Aliansi Dosen Akademik dan Kevokasian Seluruh Indonesia (ADAKSI).
Pesan tersiratnya jelas: para pendidik tinggi menyampaikan keresahan atas stagnasi tunjangan fungsional dan ketimpangan tunjangan kinerja.
Aksi ini menyita perhatian publik karena tampil dengan bahasa simbol, bukan teriakan.
Dosen, identik dengan dunia akademik, riset, dan literasi, memilih bunga sebagai media kritik.
Keindahan bunga menegaskan ironi: di balik tuntutan publikasi internasional, riset unggulan, dan kontribusi nyata untuk bangsa, kesejahteraan dosen masih tertinggal.
Tunjangan Tak Bergerak
Tunjangan fungsional dosen hampir tidak berubah sejak lama. Padahal, beban kerja terus meningkat.
Dosen dituntut mengajar, menghasilkan penelitian bereputasi, mengabdi kepada masyarakat, serta mendukung akreditasi dan peringkat kampus.
Kesenjangan antara tuntutan dan penghargaan menimbulkan paradoks.
Pemerintah ingin universitas Indonesia masuk jajaran kampus kelas dunia, tetapi dosen sebagai aktor utama masih berjuang dengan kesejahteraan yang stagnan.
Bagaimana mungkin mutu riset dan pendidikan melonjak jika pijakan dasar pendidiknya rapuh?
Tunjangan Kinerja: Langkah Maju yang Terbatas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-08-31-Andi-Marlina-Masdjidi.jpg)