Opini
Affan Kurniawan: Nama yang Tak Boleh Hilang dalam Sunyi
Ia adalah cermin, yang memantulkan wajah kita sebagai bangsa: apakah kita masih mampu merawat keadilan?
Oleh : Muhammad Ridha Suaib
Akademisi Universitas Bosowa Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Affan tidak lagi hadir di antara kita, tetapi namanya tidak boleh hilang dalam sunyi.
Ia adalah cermin, yang memantulkan wajah kita sebagai bangsa: apakah kita masih mampu merawat keadilan? Ataukah kita lebih pandai menutup luka dengan sanjungan?
Di dalam namanya yang sederhana, terkandung pesan abadi: bahwa setiap jiwa, betapapun kecil, adalah bagian dari martabat bangsa yang tak boleh diabaikan.
Affan dan Cermin Kemanusiaan :
Kehidupan Affan adalah kehidupan ribuan rakyat kecil lainnya: sederhana, penuh perjuangan, dan kadang tak diperhatikan. Tetapi justru dari kesederhanaan itulah lahir cermin kemanusiaan.
Ia mengingatkan kita bahwa ukuran sebuah bangsa tidak terletak pada gedung-gedung megah atau parade kuasa, melainkan pada bagaimana ia menjaga yang paling rapuh di antara warganya.
Tragedi Affan memaksa kita menoleh, bukan hanya pada dirinya, tetapi juga pada sistem yang melingkupi kehidupan kita.
Adakah ruang untuk suara kecil? Adakah tempat bagi mereka yang tidak pernah tampil di layar kaca, tetapi setiap hari menopang denyut ekonomi jalanan?
Ada saatnya bangsa ini perlu bercermin, bukan pada kilau istana atau sorot kamera, melainkan pada wajah rakyat kecil yang tanpa nama. Affan adalah cermin itu.
Dari kehidupannya yang sederhana, ia memantulkan kebenaran yang sering kita abaikan: bahwa martabat manusia tidak diukur dari jabatan, pangkat, atau kekuasaan, melainkan dari seberapa gigih ia bertahan hidup dengan cara yang jujur.
Di dalam kepergiannya, kita belajar bahwa hidup bukan sekadar soal siapa yang kuat dan siapa yang berkuasa.
Hidup adalah tentang bagaimana kekuatan digunakan untuk melindungi yang lemah, bagaimana kuasa dipakai untuk menjamin keadilan.
Tanpa itu semua, kekuatan hanyalah kekerasan, dan kuasa hanyalah tirani. Affan, dengan tubuhnya yang ringkih, justru menjadi saksi betapa mahalnya nilai kemanusiaan di negeri ini.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.