Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tribun Timur

Panggilan Jiwa Presiden Mengisi Perut Rakyat Terus Melaju

Presiden Prabowo menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari kewenangan, tetapi dari keberanian untuk melayani. Di tengah dinamika politik

Editor: AS Kambie
Tribun Timur / Kaswadi
FORUM DOSEN - Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies Prof Ali Mochtar Ngabalin (kiri) dan Ketua ICMI Sulsel Prof Arismunandar saat menghadiri Dialog Forum Dosen digelar Tribun Timur bersama Forum Dosen dengan tema Mengenang Almarhum Dr Aswar Hasan Msi di Ruang Redaksi Lantai 2 Kantor Tribun Timur, Jl Opu Dg Risadju, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Selasa (19/8/2025) sore. 

Oleh: Prof Dr Ali Mochtar Ngabalin S Ag MSi

Ketua DPP Partai Golkar/Alumni IAIN Alauddin Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Indonesia tengah menghadapi situasi sosial politik yang menuntut kewaspadaan tinggi. Ketegangan antar-lembaga negara dan keresahan masyarakat membuat stabilitas nasional berada dalam sorotan. 

Namun di tengah suasana yang kurang kondusif ini, Presiden Prabowo Subianto memilih untuk memusatkan perhatian pada hal paling mendasar: memastikan rakyat kecil merasakan kehadiran negara secara nyata. Ia memahami bahwa menjaga stabilitas bangsa tidak hanya soal keamanan dan hukum, tetapi juga kepastian hidup layak bagi seluruh warga negara. Langkah itu menjadikan kepemimpinannya terasa dekat dengan denyut nadi rakyat.

Dengan pijakan tersebut, Presiden Prabowo menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya diukur dari kewenangan, tetapi dari keberanian untuk melayani. Di tengah dinamika politik yang menegangkan, ia memilih untuk menenangkan keadaan dengan tindakan konkret, bukan sekadar wacana.

Ada momen ketika seorang pemimpin harus memilih apakah ia akan menjadi penguasa yang nyaman dalam kemegahannya atau menjadi pelayan yang rela merasakan sakit rakyatnya. Presiden Prabowo Subianto telah membuat pilihan itu dengan tegas dan penuh keberanian.

Dalam setiap perjalanan ke pelosok negeri, Prabowo menyaksikan realitas yang memilukan hati nurani bangsa. Anak-anak yang tubuhnya kerdil akibat stunting, keluarga yang bertahan hidup hanya dengan nasi dan garam, orang tua yang harus menahan lapar agar anak-anak mereka bisa makan. Pemandangan ini tidak sekadar melewati matanya, tetapi membekas dalam jiwa seorang presiden yang memilih untuk tidak berpaling dari penderitaan rakyatnya.

Meskipun terlahir dari keluarga berada, Prabowo tidak memilih hidup dalam menara gading yang memisahkannya dari realitas kehidupan rakyat kecil. Ia turun tangan, merasakan denyut nadi perjuangan mereka, dan menegaskan sebuah filosofi kepemimpinan yang sederhana namun revolusioner. Keberadaan seorang pemimpin diukur bukan dari kekuasaan yang ia genggam, melainkan dari seberapa besar ia berkorban untuk rakyatnya. Langkahnya mencetuskan program makan bergizi gratis adalah bukti nyata bahwa ia tidak sekadar memimpin dengan kata-kata, melainkan melayani dengan hati.

Sofia, seorang siswi sekolah dasar di Kupang, menjadi saksi hidup dari transformasi yang sedang terjadi. Dengan tulisan tangan yang masih belum sempurna, ia menulis kepada Presiden. 

“Pak Presiden, sekarang saya bisa makan nasi dengan ayam, telur, dan ikan setiap hari di sekolah. Dulu saya hanya bisa makan seperti ini kalau tetangga punya hajatan. Saya seperti ditaruh ke tempat yang terang sekali.”

Kata-kata polos Sofia itu bukan sekadar testimoni, melainkan wajah nyata dari keberpihakan negara pada mereka yang paling membutuhkan kasih sayang dan perhatian.

Visi ini sesungguhnya bukan hal baru dalam sejarah bangsa Indonesia. Para pendiri negeri ini sejak awal telah menekankan bahwa negara harus memelihara kehidupan seluruh warganya. Bahkan di tengah hiruk pikuk perang kemerdekaan, kabinet pertama Republik Indonesia pada tahun 1945 tidak lupa membentuk Kementerian Urusan Kesejahteraan. Mereka memahami dengan jernih bahwa kemerdekaan tanpa kesejahteraan adalah kemerdekaan yang hampa makna.

Presiden Prabowo dengan keyakinan yang bulat menghidupkan kembali ruh sejarah ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh hanya bertindak reaktif ketika terjadi kekacauan sosial, tetapi harus hadir lebih dulu, proaktif memberi makan sebelum ada jeritan kelaparan, menyembuhkan sebelum ada luka yang menganga. Kebijakan ini bukan sekadar program populis, melainkan langkah progresif yang berakar dari konstitusi dan panggilan nurani yang mendalam.

Aristoteles, filsuf besar Yunani, pernah meninggalkan pesan yang masih bergema hingga hari ini. “Poverty is the parent of revolution and crime.” (Kemiskinan adalah sumber segala keresahan sosial).

Prabowo memahami benar makna filosofis dibalik pesan ini. Memberi makan rakyat bukanlah sekadar program bantuan sosial yang bersifat temporer, melainkan investasi strategis pada keamanan, ketertiban, dan masa depan bangsa. Ketika perut kenyang, pikiran menjadi jernih. Ketika anak-anak tumbuh dengan gizi yang sempurna, mereka akan menjadi generasi emas yang cerdas, produktif, dan mampu membangun peradaban Indonesia yang lebih maju.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved