Opini
Melawan Rezim Mencipta Seperti Pramoedya
Menyebut nama Pram atau Pramoedya Ananta Toer, sesuatu yang teramat penting dalam perjalanan bangsa ini.
Oleh: Andi Yahyatullah Muzakkir
Founder Sekolah Kota dan Anak Makassar Voice
TRIBUN-TIMUR.COM - Apakah kita bisa mengoptimalkan berkarya pada suasana bebas seperti sekarang ini?
Menyebut nama Pram atau Pramoedya Ananta Toer, sesuatu yang teramat penting dalam perjalanan bangsa ini.
Bagi saya ia adalah sebuah nama besar yang juga membentuk perjalanan sejarah dan karakter bangsa ini dalam bidang kesusastraan.
Bisa kita katakan bahwa Pram adalah satu dari sedikit tokoh teladan sebagai bagian dari identitas bangsa melalui karya-karyanya yang monumental.
Ia bahkan satu-satunya tokoh yang namanya selalu disebut-sebut masuk nominasi Nobel dalam bidang sastra, sebuah penghargaan internasional yang memberi legitimasi atau pengakuan pada seseorang atas capaiannya.
Pram sampai hari ini namanya abadi dalam ingatan kita semua. Kiprah yang ditorehkan sungguh sangat berarti dalam bidang karya, pemikiran dan kreativitas.
Novelnya yang sangat monumental seperti bumi manusia, satu diantara empat karangannya pada “tetralogi pulau buru” karangannya yang ditulis pada saat ia menjadi tahanan politik orde baru di pulau buru.
Saya rasa karangan ini menjadi bacaan penting semua kalangan, khususnya bagi kita yang ingin belajar tentang sejarah perjalanan bangsa kita.
Selama sepuluh tahun ia menjadi tahanan politik orde baru. Ini disebabkan pasca kejadian gerakan 30 September PKI, maka semua yang terafiliasi atau memiliki hubungan dan sangkutan mengenai PKI maka dihukum, hingga dibuang tanpa pengadilan.
Seperti halnya yang dialami oleh Pram waktu menjadi tahanan politik dan dibuang di pulau buru.
Hal ini makin menguat tatkala pada tahun 50an menjelang tahun 60an, LEKRA atau lembaga kebudayaan rakyat sebagai organisasi pemikiran dan kebudayaan PKI, memiliki intensitas yang sangat besar dalam penciptaan karya.
LEKRA tempat Pram menyalurkan ide, gagasan dan pemikirannya. Sorotan rezim pada LEKRA tidak lepas dari karya-karya yang muatannya banyak bercerita dan menyuguhkan sesuatu yang real.
LEKRA sendiri dianggap memiliki rujukan filosofi atau rujukan teori dengan “realisme sosial” dan “romantika revolusioner.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.