Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Catatan di Kaki Langit

Catatan di Kaki Langit: Tolak Demo Bertujuan Pemakzulan

Tanpa ada martir, Gus Dur pun dimakzulkan oleh demo. Demo dengan dan tanpa martir telah menjatuhkan tiga presiden kita.

Editor: AS Kambie
TRIBUN-TIMUR.COM
FORUM DOSEN - Guru Besar UIN Alauddin Makassar, Prof Qasim Mathar, saat kegiatan Dialog Forum Dosen : Mengenang Almarhum Dr Aswar Hasan di Kantor Redaksi tribun Timur, Kota Makassar, Selasa (19/8/2025). Prof Qasim kenang kedekatan dengan Aswar Hasan. 

Oleh: M Qasim Mathar

Guru Besar Emiritus/Cendekiawan Muslim dan Pendiri Pesantren Matahari di Moncongloe Maros

TRIBUN-TIMUR.COM - Sejak zaman Bung Karno, presiden pertama RI, presiden-presiden RI lainnya juga mengalami demonstrasi (demo) dari rakyat. Demo itu dari yang berskala kecil hingga yang besar. Bahkan demo yang memakzulkan (menjatuhkan) sang presiden. Presiden-presiden yang dimakzulkan oleh demo dalam sejarah ialah: Soekarno (Bung Karno), Soeharto (Pak Harto), dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Adanya martir (korban jiwa) dalam demo telah memicu demo semakin marak, menyala, dan menjadi anarkis ("menentang keberadaan negara, hukum, polisi, dan otoritas lainnya yang dianggap bersifat memaksa"). 

Martir demo pada tahun 1966, di antaranya adalah: Arief Rachman Hakim (mahasiswa UI), Zubaedah pelajar KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Infonesia), Hasanuddin Noer di Banjarmasin, Aris Munandar dan Margono di Yogyakarta. Martir dalam demo mempercepat kejatuhan Bung Karno.

Martir pada Mei 1998 di antaranya adalah empat mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Juga, Moses Gatotkaca di Yogyakarta, dan banyak lagi lainnya. Martir demo 1998 mempercepat kejatuhan Pak Harto.

Tanpa ada martir, Gus Dur pun dimakzulkan oleh demo. Demo dengan dan tanpa martir telah menjatuhkan tiga presiden kita.

BJ Habibie tidak setuju bahwa keterbelahan yang terjadi di masyarakat belakangan ini disebabkan pasangan calon presiden beserta wakil presidennya yang hanya dua. ""Loh, kamu yang tentukan mekanismenya sendiri," ujar Habibie. Habibie juga menolak disamakan antara demo 1998 yang memakzulkan Soeharto dan demo anti Habibie. Meski Habibie adalah presiden tersingkat masa pemerintahannya, beliau tetap dirujuk kebaikan dan keberhasilannya.

Habibie menegaskan, "Indonesia akan menghadapi Pemilu setiap lima tahunnya. Dengan demikian, tidak perlu masyarakat berbuat tindakan yang tidak sesuai konstitusi. Apalagi sampai melakukan kerusuhan di tengah masyarakat. Habibie menuturkan, melakukan perbuatan yang melanggar hukum karena perbedaan politik hanya akan menghambat pembangunan bangsa dan memecah belah persatuan".

"Apa kita akan mengambil risiko menghambat pembangunan? Mengambil risiko bahwa kita bisa diadu domba, pecah dan sebagainya? Enggak ada itu," ujar Habibie". 

Demo di pekan terakhir Agustus 2025 ini sudah menelan martir. Affan, pengemudi ojol (ojek on line) tergilas kendaraan taktis Brimob. Martir demo memicu demo semakin meluas. Sebagai mantan demonstran, saya mohon: demo jangan bertujuan memakzulkan presiden dan pemerintahannya. Belajarlah dari, "Keledai tidak terperosok dua kali ke lubang yang sama", kata pepatah.

Tiga kali bangsa ini menjatuhkan presidennya ke lubang yang sama: dua kali demo dengan martir dan satu kali demo tanpa martir. Demo 1998 melahirkan Reformasi. Setelah 20 tahunan, Reformasi dikritik dan dicela, juga oleh tokoh⊃2; Reformasi.

Di Agustus ini, demo berakibat ada martir. Tapi, semoga demo kali ini tidak (lagi) bertujuan memakzulkan presiden. Jika itu yang menjadi tujuan, berdasarkan pengalaman, ada tiga pihak yang bisa mengais keuntungan dalam situasi kacau ("chaos"). Kesatu, ialah politisi yang kehilangan panggung dan kekuasaan. Kedua, ialah avonturir politik. Ketiga, ialah tentara. Tidak satu pun menjadi pilihan orang yang bijak. Sebab, yang pasti, rakyat akan semakin menderita dan pembangunan tersendat!(*)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved