Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Quo Vadis Merdeka Belajar di Tengah Kritik terhadap Mendikbudristek Nadiem Makarim

Sejak diluncurkannya kebijakan Merdeka Belajar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI kebijakan ini telah memicu banyak

Editor: Edi Sumardi
DOK PRIBADI
WR II IAIN Palopo, Dr Masruddin SS MHum 

6. Kontekstualisasi Kurikulum: Menggabungkan Standar Nasional dengan Kebutuhan Lokal

Salah satu aspek penting dari Merdeka Belajar adalah fleksibilitas dalam pengembangan kurikulum.

Namun, fleksibilitas ini harus diimbangi dengan standar nasional yang jelas untuk memastikan kualitas pendidikan yang merata.

Pendekatan yang dapat diambil meliputi: Pengembangan kurikulum inti nasional yang fokus pada kompetensi esensial.

Memberikan ruang bagi sekolah dan daerah untuk mengembangkan kurikulum tambahan yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal.

Mendorong pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan konteks lokal dan mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya dalam kurikulum.

7. Belajar dari Negara Serupa: Adaptasi Praktik Terbaik

Kritik Jusuf Kalla tentang kecenderungan Indonesia untuk terlalu banyak meniru negara-negara maju seperti Finlandia dan Swedia perlu dipertimbangkan.

Sebagai alternatif, Indonesia dapat belajar dari negara-negara dengan kondisi yang lebih serupa seperti Cina, India, dan Korea Selatan.

Beberapa praktik yang dapat diadaptasi meliputi: Sistem evaluasi nasional yang disesuaikan, seperti yang diterapkan di Cina dan India, untuk memastikan standar kualitas pendidikan yang konsisten.

Investasi besar-besaran dalam infrastruktur pendidikan dan pelatihan guru, seperti yang dilakukan oleh Korea Selatan.

Pemanfaatan teknologi untuk memperluas akses pendidikan ke daerah terpencil, seperti yang dilakukan India dengan platform pembelajaran online nasional dan Fokus pada pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri dan pasar kerja global.

Selain itu, Kemdikbud Ristek menawarkan tiga opsi kurikulum untuk 2022-2024: Kurikulum 2013, kurikulum darurat, dan kurikulum prototipe (kini Kurikulum Merdeka).

Kurikulum Merdeka, berbasis proyek, menjadi fokus utama karena diproyeksikan untuk jangka panjang. Namun, Komisi X DPR menilai implementasinya belum optimal dan meminta evaluasi sebelum penerapan lebih lanjut. Mereka juga ingin Kurikulum Merdeka diintegrasikan ke dalam peta jalan pendidikan nasional.

Berbagai organisasi pendidikan (Muhammadiyah, NU, lembaga pendidikan Kristen dan Katolik) sepakat perlunya peta jalan pendidikan yang jelas untuk menghindari perubahan kurikulum yang terlalu sering.

Mereka menekankan pentingnya mempertimbangkan tujuan pendidikan jangka panjang dan tantangan masa depan.

Tantangan implementasi Kurikulum Merdeka meliputi: Kesiapan guru dalam menginterpretasi dan menerapkan kurikulum.

Perbedaan kemampuan antar sekolah dan  kebutuhan pendampingan dan anggaran yang merata serta masalah dalam proses sosialisasi dan pemahaman di berbagai tingkat.

Organisasi-organisasi ini menekankan perlunya persiapan yang matang dan evaluasi menyeluruh sebelum implementasi penuh Kurikulum Merdeka.

Merdeka Belajar memiliki potensi besar untuk mentransformasi pendidikan di Indonesia, namun implementasinya memerlukan pendekatan yang hati-hati, bertahap, dan disesuaikan dengan konteks lokal.

Diperlukan keseimbangan antara memberikan kebebasan dalam belajar dan memastikan standar kualitas pendidikan yang konsisten di seluruh negeri.

Transformasi pendidikan melalui Merdeka Belajar bukan hanya tentang perubahan kebijakan, tetapi juga perubahan mindset dan budaya.

Ini memerlukan komitmen jangka panjang, investasi yang signifikan, dan kolaborasi erat antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.

Dengan pendekatan yang terstruktur, adaptif, dan mempertimbangkan keunikan kondisi Indonesia, kebijakan Merdeka Belajar dapat menjadi katalis untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Tujuan akhirnya adalah mempersiapkan generasi Indonesia yang tidak hanya mampu bersaing di tingkat global, tetapi juga memiliki akar yang kuat dalam nilai-nilai dan budaya lokal.

Melalui implementasi yang cermat dan evaluasi berkelanjutan, Merdeka Belajar dapat menjadi langkah penting dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai negara dengan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing global.(*)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved