Opini
IPAL Losari di Tengah Massifnya Pembangunan Infrastruktur
IPAL Losari yang dibangun sejak 2019 dan menelan biaya Rp1,2 triliun, diharapkan memberi banyak manfaat bagi warga Makassar.
Oleh:
Dr Suryani Syahrir ST MT
Dosen dan Pemerhati Sosial
TRIBUN-TIMUR.COM - Kunjungan Presiden Jokowi dalam rangka peresmian beberapa infrastruktur di Kota Makassar, Kabupaten Pangkep, dan Kabupaten Maros disambut hangat masyarakat setempat.
Salah satu yang akan diresmikan adalah IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) Losari.
IPAL yang dibangun sejak 2019 dan menelan biaya Rp1,2 triliun, diharapkan memberi banyak manfaat bagi warga Makassar, terutama warga yang terlayani.
Seperti dilansir dari laman https://makassar.tribunnews.com/2024/02/22/telan-anggaran-
rp-12-triliun-jokowi-ungkap-manfaat-ipal-losari-bagi-warga-makassar , rincian pembiayaan IPAL Losari adalah dari APBN Rp1,067 triliun, ADB Rp672 miliar, dan APBD Rp150 miliar.
Berkapasitas 16.000 meter kubik per hari dengan panjang jaringan perpipaan 96 km.
IPAL ini mampu melayani 41 ribu Kepala Keluarga (KK).
Jika dianalisis berbagai proyek pembangunan yang ada, terlihat ada ketimpangan yang cukup signifikan.
Satu sisi membangun IPAL yang diharapkan memberi manfaat bagi warga terlayani.
Sisi lain membangun infrastruktur lainnya tanpa memperhatikan aspek manusia dan lingkungan.
Sebagai contoh pembangunan kawasan Center Point of Indonesia (CPI) yang menuai banyak protes warga.
Para ahli dan akademisi pun sudah 'berteriak' akan dampak negatif dari pembangunan tersebut.
Toh, tetap berjalan walau di atas tangisan banyak warga terdampak.
Sudah berapa banyak pembangunan yang menelan anggaran cukup fantastis.
Namun, manfaat dari pembangunan itu sendiri sepertinya tereduksi dengan massifnya pembangunan ugal-ugalan ala sistem kapitalisme.
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dr-Suryani-Syahrir-ST-MT-Dosen-dan-Pemerhati-Sosial-7.jpg)