Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson

Seputar Mudik

Selain pemudik, barangkali pengendara-pengendara khususnya roda empat itu punya tujuan dagang atau tujuan -tujuan lain.

Editor: Hasriyani Latif
DOK TRIBUN TIMUR
Abdul Karim ketua Dewas LAPAR Sulsel. Abdul Karim penulis tetap rubrik Klakson di Tribun Timur. 

Oleh:
Abdul Karim
Ketua Dewas LAPAR Sulsel
Majelis Demokrasi dan Humaniora

TRIBUN-TIMUR.COM - Mudik menggores banyak kisah. Kisah tentang lebaran dikampung halaman, kisah tentang masa lalu, kisah tentang sekolah masa lampau, lalu jamak diperingati sebagai reuni.

Kisah-kisah itu tersambung dan mengumpul dikepala kita masing-masing. Tumpahlah semua itu usai lebaran. Dan pada mudik tertancaplah makna-makna nostalgik indah yang mengesankan.

Tetapi pernahkah kita fikirkan bahwa untuk tiba pada titik nostalgia indah itu banyak hal yang menarik dicermati—terutama berkait proses mudik?

Dan pernahkah kita memaknai proses itu semua? Mulai saat kemacetan lalu lintas saat keluar kota hingga kita tiba di kampung halaman—banyak hal kita temukan.

Jelang lebaran, kita tahu arus lalu lintas arah Makassar bagian selatan (Gowa) padat mengular. Begitupun arus lalu lintas Makassar bagian utara (Maros).

Selain pemudik, barangkali pengendara-pengendara khususnya roda empat itu punya tujuan dagang atau tujuan -tujuan lain hingga arus lalu lintas menjadi tak normal.

Fenomena ini menandakan ekonomi bergerak, kesibukan rakyat kian menjadi-jadi. Negara boleh mengklaim fenomena ini sebagai keberhasilannya mensejahterahkan rakyat.

Perjalanan mudik lantas kita rasakan begitu indah. Di kiri-kanan kita lihat padi menghijau, atau sawah yang mengering.

Kebun-kebun warga yang ditumbuhi pisang, pohon kelapa, kelor, dan sebagainya. Begitupula di kawasan pesisir, ada laut yang membiru, ada empang yang menawan.

Ini semua menunjukkan bahwa negeri ini subur, basis-basis ekonomi terhampar luas.

Bagi kaum cerdik-pandai, fenomena ini disimpulkan sementara, bahwa ini semua adalah indikasi kesejahteraan rakyat. Benarkah begitu? Entahlah.

Selain itu, perjalanan mudik mendatangkan keheranan sebenarnya. Di sejumlah daerah, jalanan rusak parah. Berdebu hingga berlubang. Satu kebaikannya; kendaraan yang melintas tak bergegas. Jalannya melambat tak buru-buru.

Tetapi disini, ada ambigusitas yang terpampang, sebab tak jauh dari jalanan rusak itu, bertabur baliho-baliho jumbo dengan senyum merekah yang berjanji hendak mensejahterahkan rakyat.

Rekan saya bilang; “itu pembodohan”. Saya tak sependapat dengan rekan saya. Sebab saya yakin itu bukan pembodohan, tetapi “pencitraan”.

Mengapa pencitraan? Sebab, jalanan rusak bukan peristiwa baru, bukan hanya lebaran kali ini jalanan rusak itu kita temukan.

Dari lebaran ke lebaran jalanan rusak menjadi pemandangan nyata. Artinya, masalah seperti itu telah lama terjadi tak diatasi. Itupun terjadi dari pemilu ke pemilu.

Maka ketika baliho-baliho politik terbit, kita kurang yakin dengan kehendak baik mereka mensejahterahkan warga.

Pemandangan lain saat mudik, adalah masjid-masjid disepanjang jalan, tampak megah-megah dan modern. Masjid-masjid dengan gaya lama, direnovasi dengan arsitektur modern ala timur tengah.

Ketika kita mampir sholat didalamnya, nuansa masjid ala timur tengah kian terasa; karpet tebal yang empuk, lantai keramik yang kemilau, hingga lampu bohlam yang memancarkan cahaya dari segala arah, dan tak ketinggalan pula AC pendingin yang sejuk.

Tetapi diluar masjid, di pinggir jalan, dibibir selokan, di bantaran sungai, atau dipinggir jalan dekat sawah dan kebun—kita lihat sampah limbah rumah tangga menumpuk dan membusuk. Orang-orang membuang sampah disana.

Sialnya, pemerintah setempat tampaknya tak bereaksi. Disini, kontradiksi terjadi; masjid megah dengan simbol kesucian hadir bersamaan dengan tumpukan sampah yang membusuk.

Permasalahan sampah dalam satu dasawarsa terakhir memang menjadi masalah yang tak dipermasalahkan. Bila pemerintah tak mengatasi itu, maka kedepan sampah akan menjadi masalah serius didaerah-daerah.

Pemerintah daerah seharusnya memikirkan untuk merancang pembangunan pembuangan sampah warga.

Mengapa sampah tumpah ruah? Entahlah. Tetapi barangkali produksi sampah tumpah-ruah lantaran penduduk kini tersebar dimana-mana dengan tingkat konsumsi yang tinggi.

Selain itu, volume sampah yang meninggi lantaran hampir semua barang-barang konsumsi kini diproduksi dengan kemasan plastik.

Bahkan, ikan-ikan segar di pasar pun dibungkus dengan kantong plastik. Berbeda diera 1980-an dan 1990-an silam, ikan segar dipasar dibungkus daun pisang atau daun jati.

Saat ia menjadi sampah, dengan mudah dedaunan itu melebur ke dalam tanah. Berbeda dengan plastik-plastik, ia tak sirnah oleh tanah.

Begitulah kisah seputar mudik. Banyak kisah tentangnya, selain reuni. Tetapi adapula kisah-kisah ironis, ambigu, dan kontras, diantaranya; tentang kepadatan kendaraan, baliho-baliho disekitar jalanan yang rusak, masjid-masjid megah suci yang disertai pemandangan sampah menumpuk yang membusuk. Busuklah peradaban kita.(*)

Sumber: Tribun Timur
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved