Opini
Matinya Gerakan Sosial di Era Digital: Aksi BEM dan Krisis Representasi Massa
Namun, aksi itu juga membuka pertanyaan yang lebih dalam. Apakah gerakan mahasiswa hari ini masih benar-benar menjadi representasi massa?
Ketiga, proses pengambilan keputusan yang terbuka dan partisipatif. Gerakan mahasiswa tidak boleh hanya berbicara tentang rakyat. Ia harus bergerak bersama
rakyat.
Tidak cukup membawa nama rakyat dalam spanduk. Rakyat harus hadir dalam proses penyusunan agenda, strategi, tuntutan, dan arah perjuangan.
Otokritik ini tidak bermaksud melemahkan gerakan mahasiswa. Justru sebaliknya. Gerakan yang sehat harus berani mengkritik dirinya sendiri.
Sebab gerakan yang tidak mau dikritik mudah berubah menjadi apa yang dulu ia lawan.
Matinya gerakan sosial di era digital bukan hanya disebabkan oleh represi, algoritma, atau apatisme publik.
Ia juga disebabkan oleh krisis moral dan krisis representasi di dalam tubuh gerakan itu sendiri.
Gerakan sosial hanya layak disebut gerakan rakyat jika rakyat benar-benar hadir di dalamnya.
Bukan hanya sebagai nama. Bukan hanya sebagai simbol. Bukan hanya sebagai jumlah massa.
Tetapi sebagai subjek yang ikut menentukan arah perjuangan.
Aksi BEM kemarin membuktikan bahwa gerakan mahasiswa belum mati. Namun, aksi itu juga mengingatkan kita bahwa hidupnya gerakan tidak cukup dibuktikan dengan keberanian turun ke jalan.
Ia harus dibuktikan dengan kedalaman basis, kejernihan agenda, dan kejujuran representasi.
Jika tidak, gerakan sosial hanya akan menjadi panggung kecil bagi segelintir aktor yang berbicara besar atas nama rakyat, tetapi bergerak jauh dari rakyat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-15-Kardina-Alumni-Unhas-dan-UGM.jpg)