Opini
Matinya Gerakan Sosial di Era Digital: Aksi BEM dan Krisis Representasi Massa
Namun, aksi itu juga membuka pertanyaan yang lebih dalam. Apakah gerakan mahasiswa hari ini masih benar-benar menjadi representasi massa?
Dalam konteks gerakan sosial, gejala ini tampak ketika massa hanya diminta hadir saat aksi, tetapi tidak dilibatkan dalam perumusan sikap, strategi, dan evaluasi.
Era digital mempercepat krisis ini. Media sosial membuat aktivisme terlihat hidup. Ada poster digital. Ada tagar.
Ada video orasi. Ada petisi daring. Ada utas panjang. Semua itu memberi kesan bahwa gerakan sosial sedang tumbuh. Namun, keramaian digital tidak selalu berarti
kekuatan gerakan.
Gerakan sosial bisa viral, tetapi belum tentu berakar. Ia bisa ramai di layar, tetapi sepi di basis.
Ia bisa kuat dalam narasi, tetapi lemah dalam pengorganisasian. Ia bisa cepat memobilisasi, tetapi gagal membangun kesadaran jangka panjang.
Dalam teori mobilisasi sumber daya, gerakan sosial tidak cukup dibangun oleh kemarahan moral.
Ia membutuhkan kader, data, dana, media, jaringan, kepemimpinan, dan organisasi.
Namun, sumber daya juga membawa risiko. Ketika gerakan terlalu bergantung pada donor, elite politik, sponsor, atau jaringan kekuasaan tertentu, arah perjuangan bisa bergeser.
Gerakan lalu tidak lagi bertanya, “Apa kebutuhan massa?” Gerakan mulai bertanya, “Apa yang menguntungkan jaringan kami?” Pada titik ini, gerakan sosial berubah menjadi industri isu.
Ada isu yang dipilih karena mudah viral. Ada isu yang dibesarkan karena memberi panggung kepada aktor tertentu. Ada isu yang diangkat karena cocok dengan kepentingan kelompok
tertentu. Sebaliknya, masalah yang sunyi, rumit, dan tidak menarik secara media sering ditinggalkan.
Aksi BEM terbaru perlu dibaca dalam kerangka ini. Ia menunjukkan bahwa mahasiswa masih punya energi kritik. Itu penting. Tetapi energi kritik saja tidak cukup.
Gerakan mahasiswa harus membuktikan bahwa tuntutannya tidak hanya lahir dari ruang rapat organisasi, tetapi juga dari proses mendengar keresahan masyarakat.
Jika gerakan mahasiswa ingin tetap menjadi kekuatan moral, ia harus menjaga tiga hal.
Pertama, independensi dari elite politik. Kedua, kedekatan dengan massa yang diperjuangkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-15-Kardina-Alumni-Unhas-dan-UGM.jpg)