Opini
Matinya Gerakan Sosial di Era Digital: Aksi BEM dan Krisis Representasi Massa
Namun, aksi itu juga membuka pertanyaan yang lebih dalam. Apakah gerakan mahasiswa hari ini masih benar-benar menjadi representasi massa?
Secara konseptual, Charles Tilly melihat gerakan sosial sebagai tindakan kolektif yang terorganisasi, berkelanjutan, dan membawa klaim publik.
Artinya, gerakan sosial bukan sekadar ledakan kemarahan. Ia membutuhkan organisasi, solidaritas, komitmen, dan hubungan nyata dengan kelompok yang diperjuangkan.
Dari sudut pandang itu, aksi BEM dan jaringan mahasiswa terbaru tidak cukup dibaca sebagai demonstrasi semata.
Ia juga harus dibaca sebagai ujian representasi. Mahasiswa membawa isu ekonomi, harga kebutuhan pokok, BBM, pemborosan anggaran, dan militerisme sipil.
Isu-isu itu memang menyangkut rakyat luas. Tetapi pertanyaan berikutnya adalah: apakah rakyat yang terdampak ikut menentukan arah gerakan itu?
Ada perbedaan besar antara mewakili massa dan memakai nama massa. Mewakili massa berarti mendengar, mengorganisasi, melibatkan, dan bertanggung jawab kepada mereka.
Memakai nama massa berarti menjadikan rakyat sebagai simbol legitimasi, sementara keputusan gerakan tetap diambil oleh segelintir aktor.
Inilah krisis representasi yang perlu dikritik.
Banyak gerakan hari ini kuat dalam slogan, tetapi lemah dalam basis. Mereka berbicara tentang rakyat kecil, tetapi tidak selalu hadir di ruang hidup rakyat kecil.
Mereka berbicara tentang buruh, tetapi buruh sering hanya menjadi angka dalam mobilisasi.
Mereka berbicara tentang petani, tetapi petani tidak selalu ikut menyusun agenda. Mereka berbicara tentang masyarakat miskin, tetapi bahasa gerakannya sering jauh dari pengalaman masyarakat miskin.
Akhirnya, gerakan sosial menghadapi paradoks. Ia mengkritik negara karena tidak mewakili rakyat, tetapi pada saat yang sama ia sendiri belum tentu memberi ruang bagi rakyat untuk
menentukan arah perjuangan.
Ia melawan dominasi elite, tetapi kadang menciptakan elite kecil di dalam tubuh gerakan.
Robert Michels pernah menyebut kecenderungan ini sebagai hukum besi oligarki.
Organisasi yang awalnya lahir untuk memperjuangkan kepentingan banyak orang bisa dikuasai oleh kelompok kecil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-06-15-Kardina-Alumni-Unhas-dan-UGM.jpg)