Opini
Politik Keseharian, Heidegger, dan Mahasiswa Kita
Bagi sebagian pihak, slogan itu dianggap berlebihan. Indonesia tak sedang mengalami gagal bayar utang negara.
Mereka sedang mempertanyakan arah pembangunan itu sendiri. Lima tuntutan yang mereka suarakan mencerminkan kritik terhadap prioritas kebijakan negara.
Mulai dari persoalan pemborosan anggaran, kenaikan harga kebutuhan pokok, evaluasi program strategis pemerintah, hingga kekhawatiran terhadap menyempitnya ruang sipil.
Semua tuntutan tersebut sesungguhnya berangkat dari pertanyaan yang sama. Untuk siapa negara bekerja dan kepada siapa hasil pembangunan didedikasikan.
Pertanyaan semacam itu tak pernah sederhana. Ia menyentuh inti dari hubungan antara negara dan warga negara.
Dalam demokrasi modern, legitimasi pemerintah tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi. Legitimasi juga ditentukan oleh kemampuan negara menghadirkan rasa keadilan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ketika sebagian warga mulai merasa tertinggal dari narasi kemajuan yang terus dipromosikan, maka ruang bagi kegelisahan politik akan terbuka semakin lebar.
Saya melihat bahwa demonstrasi mahasiswa tahun ini tidak dapat dipahami hanya sebagai ekspresi ketidakpuasan terhadap kebijakan tertentu. Di balik tuntutan yang mereka bawa terdapat kegelisahan yang lebih mendalam mengenai masa depan.
Kegelisahan tentang apakah generasi muda akan memiliki kesempatan hidup yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya.
Kegelisahan tentang apakah pembangunan yang berlangsung hari ini benar benar sedang membangun masa depan atau justru mewariskan beban baru bagi generasi yang akan datang.
Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa sering muncul sebagai kelompok yang mengartikulasikan kegelisahan semacam itu.
Mereka bukan selalu kelompok yang paling menderita secara ekonomi. Akan tetapi mereka sering menjadi kelompok pertama yang merasakan adanya ketidaksesuaian antara janji politik dan realitas sosial.
Karena itu, kehadiran mereka di jalanan tidak dapat direduksi menjadi peristiwa demonstrasi biasa. Ia adalah gejala yang menandakan adanya keresahan yang lebih luas dalam tubuh masyarakat.
Kecemasan yang Menjadi Kesadaran
Untuk memahami kedalaman makna dari aksi mahasiswa tersebut, kita perlu melampaui pembacaan politik yang hanya bertumpu pada statistik ekonomi, kalkulasi elektoral, atau pertarungan kepentingan antar elite.
Di balik tuntutan yang disuarakan di jalanan, terdapat dimensi yang lebih mendasar, yakni dimensi eksistensial mengenai bagaimana manusia memaknai keberadaannya di tengah dunia yang sedang berubah.
Pada titik ini, pemikiran Martin Heidegger dalam Being and Time yang diterbitkan pada tahun 1927 menawarkan perspektif yang menarik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-01-Asratillah.jpg)