Salam Tribun Timur
Kepala Sekolah dalam Bayang Tekanan
Dunia pendidikan Sulawesi Selatan sedang menyuguhkan sesuatu yang terasa ganjil. Bahkan menyedihkan.
TRIBUN-TIMUR.COM - Dunia pendidikan Sulawesi Selatan sedang menyuguhkan sesuatu yang terasa ganjil.
Bahkan menyedihkan.
Di saat negara selalu berkata pendidikan adalah jalan masa depan, justru ratusan kepala sekolah dikabarkan memilih mundur.
Padahal mereka mestinya berdiri paling depan menjaga mutu pendidikan.
Lebih miris lagi, mulai beredar pengakuan bahwa sebagian pengunduran diri itu bukan sepenuhnya pilihan pribadi, melainkan karena “disuruh pimpinan”.
Jika benar demikian, ini bukan lagi soal mutasi jabatan.
Ini soal kesehatan tata kelola pendidikan. Ini soal meritokrasi.
Ini soal keberanian negara menjaga dunia pendidikan dari tekanan yang tidak perlu.
Publik Sulsel tentu masih ingat, Pemerintah Provinsi Sulsel sejatinya sedang menjalankan proses seleksi kepala sekolah SMA sederajat secara besar-besaran.
Prosesnya terlihat modern. Berlapis. Akademik.
Seolah ingin mengirim pesan bahwa Sulsel sedang membangun sistem berbasis merit.
Tetapi tiba-tiba muncul kabar yang mengusik akal sehat: calon atau kepala sekolah memilih mengundurkan diri.
Lalu muncul lagi narasi yang lebih membuat dada sesak: ada yang mengaku mundur karena tekanan.
Tentu semua ini harus diverifikasi dengan hati-hati.
Tajuk ini tidak sedang menghakimi siapa pun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260608-Iqbal-Nadjamuddin-88.jpg)