Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ketika Bahasa Penguasa Kehilangan Empati

Setiap kali muncul kritik, respons yang sering terdengar adalah bahwa pernyataan tersebut dipotong dari konteks atau disalahartikan.

Tayang:
muh hasim
OPINI - Kasri Riswadi, Peneliti Bahasa 

Tiga Sumber Masalah

Dari perspektif pragmatik dan sosiolinguistik, setidaknya terdapat tiga persoalan yang sering muncul dalam komunikasi elite.

Pertama, kegagalan membaca konteks.

Dell Hymes menjelaskan bahwa sebuah tuturan selalu dipengaruhi oleh situasi, waktu, tempat, dan karakter pendengarnya.

Kalimat yang terdengar wajar dalam satu konteks dapat menjadi problematis dalam konteks lain.

Analogi sederhana yang mungkin masuk akal dalam percakapan sehari-hari dapat dianggap meremehkan persoalan ketika digunakan untuk menjelaskan masalah publik yang kompleks.

Kedua, lemahnya kepatuhan terhadap prinsip komunikasi yang rasional.

Paul Grice menekankan pentingnya kualitas, relevansi, kejelasan, dan proporsionalitas dalam komunikasi.

Dalam kebijakan publik, masyarakat berharap setiap pernyataan pejabat ditopang data, kajian, dan argumentasi yang memadai.

Ketika sebuah gagasan terdengar spontan atau tidak memiliki dasar yang jelas, publik akan mempertanyakan kualitas pengambilan keputusan yang melatarbelakanginya.

Ketiga, ketidakpekaan terhadap relasi kuasa.

Menurut J.L. Austin dan John Searle, berbicara bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga melakukan tindakan.

Ucapan seorang pejabat membawa otoritas yang melekat pada jabatannya.

Karena itu, pernyataan yang terdengar defensif atau meremehkan kritik mudah dipersepsikan sebagai bentuk arogansi, meskipun mungkin tidak dimaksudkan demikian.

Krisis yang Sesungguhnya

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved