Salam Tribun Timur
Alarm Pendidikan Sulsel Berbunyi Lagi
Mengundang tanda tanya besar. Ada apa dengan jabatan kepala sekolah? Padahal proses seleksi belum bisa disebut ringan.
Ia orang yang menentukan apakah murid tumbuh dalam budaya belajar yang sehat atau tidak.
Maka jika calon kepala sekolah mulai banyak mundur, sesungguhnya ada alarm yang sedang berbunyi dalam dunia pendidikan kita.
Apalagi Sulsel sedang mencoba menghadirkan sistem seleksi berbasis merit.
Ada CAT. Ada wawancara. Ada sistem digital I-Mut BKN yang disebut menjamin transparansi, akuntabilitas, dan meritokrasi.
Bahkan gubernur telah menyebut tiga ukuran penting: hasil tes akademik, kualitas lulusan siswa ke perguruan tinggi, dan integritas calon.
Semua terdengar ideal.
Tetapi meritokrasi tidak cukup hanya seleksi yang bagus.
Meritokrasi juga harus menghadirkan rasa aman bagi mereka yang terpilih.
Kepala sekolah harus diberi ruang bekerja.
Diperkuat kapasitasnya.
Didampingi ketika menghadapi masalah.
Bukan sekadar dituntut hasil lalu dibiarkan berjalan sendiri.
Karena pendidikan tidak bisa dikelola dengan rasa takut.
Sekolah yang sehat lahir dari pemimpin yang bekerja dengan keberanian, bukan kecemasan.
Pemerintah Provinsi Sulsel tentu patut diapresiasi karena mencoba memperbaiki sistem seleksi kepala sekolah agar lebih objektif.
Tetapi perbaikan tidak boleh berhenti di meja seleksi.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan jabatan kepala sekolah kembali menjadi ruang pengabdian yang bermartabat.
Jabatan yang membuat guru terbaik ingin maju, bukan malah memilih mundur. Wassalam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260205_KEPALA-SEKOLAH-BARU_kepsek-baru-muhammadiyah.jpg)