Salam Tribun Timur
Alarm Pendidikan Sulsel Berbunyi Lagi
Mengundang tanda tanya besar. Ada apa dengan jabatan kepala sekolah? Padahal proses seleksi belum bisa disebut ringan.
Ini gejala. Dan gejala selalu punya akar.
Bisa jadi para guru mulai melihat jabatan kepala sekolah di Sulsel tidak seperti dulu lagi.
Tidak “sekepala” dulu lagi. Karena lain kepala, lain kebijakan dan keinginan.
Atau mereka merasa risikonya tinggi. Tekanannya besar.
Sedikit saja salah tata kelola dana BOS, bisa diperiksa.
Sedikit gaduh di sekolah, kepala sekolah disalahkan.
Nilai turun, salah kepala sekolah.
Siswa tawuran, kepala sekolah dipanggil.
Guru bermasalah, kepala sekolah ikut terseret.
Tetapi di sisi lain, ruang geraknya semakin sempit oleh regulasi administratif yang menumpuk.
Jabatan kepala sekolah kini seperti kursi panas.
Diperebutkan, tetapi sekaligus ditakuti.
Dan jika ini benar menjadi fenomena, maka pemerintah tidak boleh buru-buru menyebutnya “hal biasa”.
Karena sekolah bukan kantor biasa. Kepala sekolah bukan sekadar pejabat administratif.
Ia pemimpin moral. Ia pengatur irama sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260205_KEPALA-SEKOLAH-BARU_kepsek-baru-muhammadiyah.jpg)