Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Salam Tribun Timur

Kemewahan Haji yang Tak Perlu Dipertentangkan

Maka tak heran jika kedatangan jamaah haji Kloter 5 asal Gowa di Asrama Haji Sudiang, Jumat (5/6/2026), kembali menarik perhatian.

Tayang:
Tribun-timur.com/Renaldi Cahyadi
HAJI 2026 - Suasana kedatangan jamaah haji kloter 5 Debarkasi Makassar di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang Makassar, Jumat (5/6/2026). Jamaah asal Kabupaten Gowa merapikan mispa jamaah haji. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Ada pemandangan khas setiap musim haji di Sulawesi Selatan.

Bahkan sudah berlangsung lama.

Sejak era orang menjemput jamaah haji masih membawa spanduk besar, bunga, dan rombongan keluarga berlapis-lapis.

Jamaah haji asal Sulsel, khususnya Bugis-Makassar, hampir selalu pulang dengan penampilan istimewa.

Baju adat terbaik. Perhiasan mencolok. Busana penuh bordir dan payet.

Kadang berganti pakaian di atas pesawat sebelum mendarat di Tanah Air.

Seolah kepulangan dari Tanah Suci bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga momentum budaya.

Maka tak heran jika kedatangan jamaah haji Kloter 5 asal Gowa di Asrama Haji Sudiang, Jumat (5/6/2026), kembali menarik perhatian.

Ada jamaah yang mengenakan busana emas dengan jahitan mencapai Rp8 juta.

Ada yang menyiapkan pakaian adat Bugis-Makassar jauh sebelum keberangkatan.

Ada pula yang pulang dengan oleh-oleh dan aksesori hasil belanja di Madinah dan Makkah.

Sebagian mungkin cepat menilai: terlalu mewah. Terlalu berlebihan.

Bahkan mungkin dianggap melenceng dari makna kesederhanaan haji.

Tetapi mungkin kita perlu sedikit lebih arif membaca fenomena ini.

Bagi sebagian masyarakat Sulsel, khususnya Bugis-Makassar, tampil terbaik saat pulang haji adalah bahasa syukur.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved