Opini Mahmud Suyuti
Syekh Yusuf Tuanta Salamaka
Merujuk tahun lahir Syekh Yusuf maka saat ini telah memasuki usia 400 tahun dan resmi menjadi agenda perayaan dunia UNESCO Anniversary 2026.
Secara masyhur ulama berpendapat bahwa sebaiknya pada haul itu diisi dengan menuturkan biografi orang yang dihauli guna memotivasi orang yang masih hidup untuk meniru orang yang dihauli itu.
Karena itu, memperingati haul 400 tahun Syekh Yusuf bertujuan untuk mengenang jasa-jasa dan ketokohannya sebagai tuanta salamaka.
Makna Mendalam Tuanta Salamaka
Tuan merupakan sebutan atau gelar kehormatan yang ditujukan kepada tokoh agama.
Masa kolonial belanda gelar sekaligus sapaan tuan disematkan kepada tokoh agama seperti tuan Karamah, gurunya Syekh Yusuf yang bernama lengkap Sayyid Alwi Assegaf bin Abdullah bin Ahmad Syarif al-Allamah al-Thahir Assegaf Tuang Karamah.
Laqab atau sapaan tuan ini diucapkan pula oleh masyarakat lokal untuk kaum penjajah saat itu seperti tuan Cornelis Speelman, tuan Raymond Westerling, tuan Van Schelle yang dilantik menjadi gubernur di Makassar oleh Jenderal Hindia Belanda tua Vander tahun 1824.
Jadi secara historis istilah tuan pada mulanya ditujukan secara eksklusif untuk non pribumi kemudian khusus pribumi lokal Bugis dalam perspektif sejarahnya disebut puang sebagai gelar kebangsawanan tertinggi untuk keturunan raja atau pemuka agama dan adat.
Selanjutnya term salamaka dalam bahasa Makassar berasal dari kata salamak.
Dalam bahasa Arab adalah salamah yang berarti keselamatan dan keberkahan.
Dengan demikian tuanta salamaka dipahami sebagai julukan khas bagi Syekh Yusuf seorang sufi yang mendapat keselamatan, menyelamatkan murid-murid dan pengikutnya dari ajaran sesat.
Syekh Yusuf menyelamatkan masyarakat dari penyimpangan akidah, bahkan Syekh Yusuf sebagai salah seorang pejuang menyelamatkan bangsa ini dari penjajahan kolonial.
Tidak hanya itu tetapi Syekh Yusuf juga dikenal sebagai pahlawan Nasional di Afrika Selatan karena jasa-jasanya sebagai peletak dasar keislaman di sana dan perjuangannya selama berada di negara tersebut yang mayoritas berkulit hitam.
Dengan demikian nama Syekh Yusuf sangat harum dan dihormati bukan saja di Indonesia, tetapi sampai di dunia internasional khususnya di Cape Town atau Western Cape dan di daratan luas Afrika Selatan pada umumnya.
Ini juga yang melatarbelakangi perkembangan Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf tidak saja di Nusantara tetapi menembus batas-batas negeri di pelbagai penjuru dunia.
Wujud nyata jasa tuanta salamaka Syekh Yusuf dalam bahasa al-Qur’an ditemukan dalam frasa min kulli fajjin 'amiq yakni menyeru ajaran kesalamatan umat manusia dari seluruh dunia dan dari berbagai tempat yang sangat jauh sebagai wujud nyata dari ayat ini (QS. al-Haj/22:27).
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)