Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mentraktir Makan, atau Memberi Tunai?

Lalu ia tertawa kecil. “Cuma memang, kenyang itu tidak bisa dibungkus untuk dibawa pulang.”

Tayang:
Editor: Ansar
Tribun-timur.com
TRIBUN OPINI - Salman Ahmad 

Oleh: Salman Ahmad

SAYA teringat seorang pegawai yang pernah berkata lirih setelah sebuah acara makan bersama, hasil traktiran bosnya di kantor: “Alhamdulillah kenyang, Pak.”

Lalu ia tertawa kecil. “Cuma memang, kenyang itu tidak bisa dibungkus untuk dibawa pulang.”

Di sebuah meja makan, seseorang tampak begitu murah hati. Ia memesan banyak hidangan.

 “Tambah lagi,” katanya kepada pelayan. Orang-orang tersenyum. Gelak tawa dan senyum tersungging manis. Suasana terasa hangat.

Tetapi hidup, kadang-kadang, tidak hanya berlangsung di meja makan.

Ia berlangsung di rumah kontrakan yang cicilannya jatuh tempo.

Pada dompet yang mulai tipis di minggu ketiga.

Pada anak yang diam-diam belum membayar uang sekolah.

Pada seorang ibu yang menanak nasi sambil menghitung sisa minyak goreng.

Sebagian tidak menyadari ini, dan seringkali, kita lebih mudah mentraktir orang makan daripada memberi uang tunai.

Barangkali karena uang tunai terlalu nyata.

Ia masuk langsung ke pusat kebutuhan. Tidak romantis. Tidak estetik. Tidak menghadirkan suasana.

Tidak ada gelak tawa yang bisa dipotret lalu diunggah. Uang tunai bekerja dalam diam. Ia tidak menciptakan peristiwa, hanya menyelesaikan masalah.

Psikologi sosial menyebut adanya visible generosity: kecenderungan manusia lebih menyukai bentuk pemberian yang dapat segera dilihat efek sosialnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved