Lensa Publik
Nasionalisme Pisang “Epek”
Seremoni Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun ini, merupakan peringatan yang ke-118 tahun.
Oleh: Muh. Iqbal Latief
Dosen Sosiologi/Kapus Opini Publik LPPM UH
TRIBUN-TIMUR.COM - Seremoni Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun ini, merupakan peringatan yang ke-118 tahun.
Setiap 20 Mei, bangsa ini akan berkumpul di lapangan dan berupacara memperingati Harkitnas.
Tapi, hanya sebatas itukah?
Bagaimana dengan nasionalisme bangsa saat ini, masih kokoh atau sudah mengalami pergeseran?
Sekarang ini, siapa yang perlu menjaga dan mempelopori agar nasionalisme bangsa, tidak goyah oleh perubahan zaman?
Apakah para pemimpin di negara yang berpenduduk lebih kurang 280 juta jiwa, masih memperlihatkan nasionalisme yang membara atau sudah melempem?
Tanya ini, memang harus dimunculkan pada setiap momentum peringatan Harkitnas.
Beragam realitas sosial di negara ini, seakan ingin menyatakan bahwa “nasionalisme” kita rada tidak baik baik saja alias mulai mengalami ketergerusan nilai.
Semangat persatuan, kesatuan dan kesadaran untuk berjuang pada satu bangsa yang berdaulat sebagai esensi nasionalisme, makin menjadi pertanyaan serius.
Apalagi jika dikaitkan dengan realitas generasi muda bangsa saat ini yang dikenal dengan istilah generasi Z atau Gen-Z, maka nasionalisme bangsa makin disorot.
Adanya hastag “kabur aja dulu” atau “Indonesia Gelap”, ini adalah fenomena sosiologis yang tidak bisa diabaikan sebagai wujud dari kecenderungan perilaku sosial anak muda sekarang.
Itulah sebabnya tema Harkitnas tahun ini, adalah “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”.
Maknanya, pemimpin bangsa harus menjaga perilaku generasi muda untuk tetap bersatu dan menjaga kedaulatan negaranya agar tidak dimangsa oleh negara lain apalagi ditengah persaingan global saat ini.
Tapi, bagaimana menumbuhkan semangat nasionalisme yang tinggi di kalangan Gen-Z?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251020-Muh-Iqbal-Latief.jpg)