Lensa Publik
Hilal THR Belum Tampak?
Apalagi dalam tradisi Bugis Makassar Mandar dan Toraja, tak lengkap rasanya kalau lebaran tanpa penganan ketupat atau burasa atau gogoso
OlehL Muh Iqbal Latief
Dosen Sosiologi/Kapuslit Opini Publik LPPM Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan tahun ini, fenomena sosial yang sering terjadi adalah mempersiapkan diri memasuki hari fitri 1 syawal 1447 H. Berdasar penanggalan masehi, maka Idul Fitri kali ini kemungkinan tanggal 21 Maret (sesuai dengan tanggal merah dikalender). Bisa juga tanggal 20 Maret sebagaimana yang sudah ditetapkan Pengurus Pusat Muhammadiyah.
Soal waktu lebaran, sesuai saja dengan keyakinan masing-masing. Masalah yang paling krusial, kalau tidak ada ketupat atauburasa pada saat lebaran. Apalagi dalam tradisi Bugis Makassar Mandar dan Toraja, tak lengkap rasanya – kalau lebaran tanpa penganan ketupat atau burasa atau gogoso (Bahasa Makassar), hehehe…
Itulah sebabnya, pada setiap perhelatan lebaran Idul Fitri – masyarakat (khususnya emak-emak) tumpah ruah di pasar-pasar (walaupun sekarang sudah zaman virtual market). Kegelisahan yang paling mendalam, kalau THR ( Tunjangan Hari Raya ) belum cair – padahal sudah mesti belanja untuk keperluan lebaran.
Kalau sudah seperti ini, biasanya emak-emak akan bertanya terus “ Kapan THR cair daeng ? “. Bapak-Bapak yang ditanya pun gelagapan, soalnya di instansi atau lembaga mereka bekerja – belum tampak ada tanda-tanda THR bakal cair. Padahal Menteri Keuangan Purbaya, sejak awal Ramadhan sudah gembar gembor – akan membayarkan THR minggu pertama puasa. Bagi yang sudah cair THR nya, tidak akan mendapatkan pertanyaan gencar.
THR adalah fenomena simbolik yang sudah berpuluh tahun menjadi kebiasaan baik dalam lingkup negara maupun korporasi. Kehadirannya selalu dinantikan saat menjelang lebaran. Pemerintah umumnya mendistribusikan THR sepuluh hari menjelang lebaran, entah mengapa tahun ini – agak sedikit telat.
Dalam perspektif sosiologi, THR dimaknai sebagai perekat hubungan sosial. Kerinduan antara keluarga yang berjarak terobati karena adanya kiriman lebaran. BahkanTHR, terkadang dimaknai sebagai pengganti diri seseorang karena tidak sempat bersilaturahmi dengan keluarganya.
Seorang anak yang bekerja di kota, biasanya tidak balik berlebaran bersama orang tuanya di desa – karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. JIka sudah seperti ini, umumnya anak hanya mengirimkan THR untuk bapak ibunya. Selalunya orang tua akan mengatakan; “ tidak apa nak kamu tidak berlebaran di kampung, yang penting sudah ada THR mu yang kami terima. Ini sudah seperti pengganti dirimu “, ujar kebanyakan orang tua memaknai THR.
Betapa dahsyatnya fungsi THR, jadi pemerintah maupun korporasi (perusahaan) mesti sedini mungkin sudah mendistribusikan tunjangan tersebut ke pegawai atau karyawannya. Jangan sampai waktunya mepet, sehingga tidak bisa lagi segera dikirim ke orang tua di kampung atau sanak saudara di rantau.
Termasuk menyiasati harga-harga yang makin menukik, menjelang lebaran (5 atau 3 hari sebelum hari lebaran). Semoga “ Hilal “ (pertanda) THR bakal cair – sudah mulai tampak. Kalau terlambat, wah……bisa jadi emak-emak akan turun ke jalan melakukan protes sosial. Apalagi, emak-emak juga selalu menukarkan uang baru pecahan Rp 5.000 atau Rp 10.000 an, untuk diberikan kepada anak-anak kecil yang datang berlebaran di rumahnya. Uang baru di hari lebaran, dimaknai ibarat manusia yang kembali baru (fitri) setelah sebulan berpuasa.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251020-Muh-Iqbal-Latief.jpg)