Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Lensa Publik

Romantisme Mudik Lebaran

Lebih asyik lagi jika ditemani hamparan sawah yang menguning, air pancuran yang bergemuruh – sambil menikmati lagu jadul Citra, Rafika Duri.

Tayang:
Editor: AS Kambie
Muh Iqbal Latief/Tribun Timur
PENULIS OPINI - Muh Iqbal Latief, salah seorang penulis opini aktif Tribun-Timur.com. Selain itu, Iqbal Latif juga menulis kolom Lensa Publik di Tribun Timur cetak yang terbit setiap hari Kamis. Iqbal Latif adalah Dosen Sosiologi FISIP /Kapuslit Opini Publik LPPM Unhas. 

Oleh: Muh Iqbal Latief

Dosen Sosiologi/Kapuslit Opini Publik LPPM Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Mudik Lebaran, kata yang tak pernah bosan diungkapkan untuk menggambarkan suasana batin bagi yang mengalaminya. Ya, mudik bermakna pulang kampung – bernostalgia mengenang masa lalu yang penuh keindahan.

Sesekali ditingkahi canda tawa yang lepas dan merekah – ketika bertemu teman sepermainan waktu kecil di kampung.  Makna mudik, tidak hanya diartikan dari kota ke desa(kampung halaman) – juga dari satu kota ke kota kelahiran bahkan dari satu negara ke negara leluhur. 

Di Indonesia tradisi mudik lebaran, telah menjadi sebuah magnit yang sangat kuat untuk menyatukan anggota keluarga yang berserakan di berbagai tempat. Pada momentum inilah, seluruh keluarga tumpah ruah menyatu dalam dekapan orang tua (ayah dan ibu).

Tak ada rasa haru, yang terjelma hanyalah rasa bahagia, rindu, kangen dalam balutan suasana yang sangat alami dan bersahabat.  Cerita-cerita nostalgis, menjadi bumbu kehangatan itu. 

Mengapa harus mudik lebaran? Bukankah Kecanggihan teknologi sekarang ini telah mendekatkan semua wilayah dan manusia – untuk bisa saling berinteraksi dimanapun juga.

Kalau hanya sekedar saling bermaaf maafan, bukankah bisa lewat video call saja? Pernahkah terpikirkan bahwa mudik lebaran, menghabiskan dan mengorbankan biaya yang tidak sedikit? 

Rupanya mudik lebaran, bukanlah kalkulasi rasional. Juga bukan kalkulasi untung rugi yang menjadi filosofi “animal economy “. Keinginan kuat berlebaran di kampung, lebih dimaknai sebagai bakti anak terhadap orang tuanya.

Bakti seseorang terhadap tempat yang membesarkan dia dengan segala suka dukanya dan keinginan untuk bernostalgia. Para kaum filsuf mengandaikan mudik lebaran sebagai wahana bertemunya “Roh” yang telah lama menghilang  dengan tanah leluhurnya. 

Dalam perspektif sosiologi, mudik lebaran dimaknai sebagai media untuk memperkuat ikatan sosial, kepedulian dan kesetiakawanan sosial.

Bahkan secara simbolik menjadi “validasi sosial “, untuk menyatakan yang mudik lebaran adalah orang-orang yang sudah sukses di tempat perantauannya masing-masing. 

Kembali berlebaran ke kampung halaman, sesungguhnya adalah menggugah romantisme masa lalu yang menjadi bagian dari episode kehidupan yang tak tergantikan.

Inilah ciri khas masyarakat muslim Indonesia – yang mungkin di tempat lain sudah tidak ditemukan lagi tradisi berlebaran di kampung. Mudik lebaran adalah tradisi masyarakat Indonesia yang tak lekang oleh kemajuan dan perubahan zaman. 

Kalau sudah sampai di kampung halaman, biasanya pemudik akan menerawang mengingat kisah-kisah romantisnya masa lalu.

Lebih asyik lagi jika ditemani hamparan sawah yang menguning, air pancuran yang bergemuruh – sambil menikmati lagu jadul “Citra “ (Rafika Duri). Inilh romantismenya mudik lebaran. …selamat menjadi manusia yang kembali suci.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved