Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Amir Muhiddin

Donald Trump Semakin Pusing

Trump bahkan melabeli proposal damai Iran sebagai usulan yang “bodoh” dan dinilai tidak sesuai dengan syarat awal yang diajukan Washington.

Tayang:
Ist
OPINI - Amir Muhiddin, Wakil Ketua Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) Sulsel 

Para pengamat militer mengakui bahwa Iran sangat cerdik dalam berperang dan dalam mempertahankan diri, malah kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut kalau AS kalah strategi dan dipermalukan oleh Iran.

Ia menilai bahwa Iran lebih unggul dalam taktik dan negosiasi dan membuat AS terjebak.

Bukan hanya itu, mayoriotas rakyat AS pun menyarankan agar AS mundur saja dari konflik di Iran, demikian juga masyarakat internasional bersuara bulat agar AS menarik diri dari Iran, masalahnya, konflik ini sudah menciptakan keresahan global akibat kelangkaan minyak, pupuk, tekanan inflasi dan krisis pangan dunia.

Sulit untuk menyebut AS sedang mengalami “kekalahan” secara militer, namun mereka kini berada dalam posisi kebuntuan strategis yang memaksa dilakukannya perubahan taktik secara mendadak.

Itu sebabnya pada tanggal 6 Mei 2026 Presiden Donald Trump secara resmi telah mengumumkan penghentian sementara “Operation Freedom Project”.

Langkah ini diambil bukan karena kekalahan di medan tempur, melainkan sebagai upaya untuk memberi ruang bagi negosiasi diplomatik guna mencapai kesepakatan final dengan Iran.

Pemimpin Iran mengeklaim AS menderita “kekalahan memalukan” karena gagal membuka paksa selat tersebut hanya dengan kekuatan militer tanpa melalui kompromi politik.

Karena operasi serangan utama (Operation Epic Fury) dianggap telah selesai namun belum mencapai tujuan pembebasan navigasi sepenuhnya.

Hingga kini Selat Hormuz masih dalam kendali militer Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC yang kemudian memicu terjadinya kemacetan pelayaran global akibat penutupan jalur strategis tersebut.

Ketegangan ini dipicu oleh berlanjutnya blockade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Saling blokade ini membuat Ratusan kapal tanker dan kargo tertahan di sekitar selat untuk mengantre izin transit dari otoritas Iran.

Proses pemulihan lalu lintas pelayaran diperkirakan memakan waktu sangat lama.

Gangguan yang telah berlangsung selama lebih dari 70 hari ini menguras pasokan minyak dunia hingga 1 miliar barel.

Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak hingga menembus US$101 per barel.

Singapur memperingatkan bahwa krisis energi berkepanjangan ini dapat memicu stagflasi ekonomi yang lebih parah dibanding krisis tahun 1970-an.

Kita berdoa, mudah-mudahan perdamaian akan segera terwujud sehingga kita semua terhindar dari malapetaka dan penderitaan yang amat panjang ini. Semoga.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved