Opini Amir Muhiddin
Donald Trump Semakin Pusing
Trump bahkan melabeli proposal damai Iran sebagai usulan yang “bodoh” dan dinilai tidak sesuai dengan syarat awal yang diajukan Washington.
Oleh: Amir Muhiddin
Wakil Ketua Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Perang Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya Israel melawan Iran, kini sudah berlangsung dua bulan lebih dan nyaris belum ada titik temu kedua belah pihak untuk berdamai, malah kelihatan eskalasi peperangan, terutama di selat Hormuz semakin meluas dan memanas, selain kedua belah pihak sudah saling serang kembali sesudah gencatan senjata sepihak oleh AS, juga keduanya saling melontarkan pernyataan dengan narasi provokatif, menyerang bahkan saling mengolok-olok.
Proposal damai yang ditawarkan oleh Iran bukannnya dipertimbangkan, malah dianggap sebagai sampah dan sama sekali tidak dapat diterima (unacceptable).
Trump bahkan melabeli proposal damai Iran sebagai usulan yang “bodoh” dan dinilai tidak sesuai dengan syarat awal yang diajukan Washington.
Seperti diketahui bahwa Iran mengajukan “proposal balasan 5 poin” yang mengharuskan AS menghentikan perang secara total di seluruh kawasan Timur Tengah.
Poin ini mencakup penghentian agresi militer AS-Israel, pencabutan sanksi ekonomi, pembebasan blokade laut, ganti rugi perang, serta pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
Sementara itu Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dan tim keamanan nasional Washington menyatakan menolak skema kontrol Selat Hormuz oleh Iran dan AS tetap menuntut syarat utama berupa penghentian total program nuklir, pembatasan rudal, serta jaminan kebebasan navigasi internasional di Teluk Persia sebelum blokade ekonomi dicabut.
Saling tolak proposal antara AS dan Iran menandai bahwa negosiasi perdamaian yang diprakarsai Pakistan mengalami kebuntuan, kedua belah pihak enggan menurunkan ego.
Tapi dari pihak Iran sendiri menyebut bahwa solusi perdamain AS Iran memang sulit tercapai karena terhambat oleh keinginan AS yang memaksa Iran untuk menghilangkan sama sekali potensi nuklir sampai pada titik nol, termasuk pengayaan uranium untuk kepentingan non militer, seperti pembangkit tenaga listrik dan sebagainya.
Donald Trump kini semakin pusing memikirkan kebijakan seperti apa lagi yang harus dilakukan untuk menundukkan Iran, berbagai cara telah dilakukan, misalnya telah menyerang Iran pertama kalai pada 2 Februari 2026 yang kemudian membunuh Pempin Iran Ayatollah Ali Khamenei, lalu menyerang secara bertubi-tubi berbagai pangkalan militer dan tempat-tempat strategis termasuk kilang-kilang minyak, membujuk dan menggertak dengan berbagai cara, semuanya gagal, bahkan kelihatannya Iran semakin kokoh, baik dalam bidang persenjataan maupun dukungan dari rakyatnya.
Seperti diketahui bahwa Rakyat Iran yang setiap saat berkumpul dan melakukan demonstrasi untuk mendukung pemerintahnya melawan AS, memberi semangat yang luar biasa bagi rezim Ayatollah untuk tetap melawan, bahkan Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC tidak pernah abai sedetikpun melihat pergerakan musuh yang sewaktu-waktu akan menyerang.
Misil balestik Iran, tank, drone dan semangat jihat IRGC tetap siaga penuh yang menandai bahwa Iran tidak akan tunduk kepada AS, sekali pun itu harus dibayar dengan nyawa yang dinilai jihat dan suhadah.
Beberapa hari lalu pemerintah Iran memamerkan lagi berbagai persenjataan baru dan beberapa hari kemudian melakukan latihan perang di sekitar pesisir Selat Hormuz yang nenandai bahwa Iran siap melayani AS jika ingin memaksakan kehendaknya.
Ini artinya Iran siap perang, termasuk perang jangka panjang.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, bahkan langsung menginstruksikan jajaran militer untuk siaga tempur tinggi dan bersiap menghadapi konfrontasi militer jangka panjang jika diplomasi gagal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Amir-Muhiddin-75.jpg)