Salam Tribun Timur
Hentikan Ricuh di Stadion
Narasi dalam video itu diperkuat oleh caption yang tajam dan emosional. Pertanyaan besar pun muncul: apakah klarifikasi dan permintaan maaf cukup?
Dan jika kebiasaan tidak dihentikan, ia akan menjadi budaya.
Stadion bukan wilayah ekstrateritorial.
Ia bukan ruang kebal hukum.
Ia adalah ruang publik yang tunduk pada hukum negara.
Di titik ini, sanksi olahraga saja tidak cukup.
Harus ada penegakan hukum pidana yang nyata.
Berbasis identitas.
Berbasis bukti.
Bukan sekadar pembubaran massa, tetapi penindakan individu.
Karena tanpa itu, tidak akan ada efek jera.
Dan tanpa efek jera, kita hanya sedang menunggu kerusuhan berikutnya.
Hukum tidak boleh berhenti pada penyesalan.
Sepak bola adalah kebanggaan.
Bukan panggung untuk menunjukkan siapa paling nekat.
Jika benar mencintai PSM, maka yang dijaga adalah suasana, bukan dilanggar.
Dan pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: ketika orang lain melangkah ke arah yang salah, apakah kita akan ikut? Atau berhenti?
Karena sejarah tidak mencatat siapa yang ikut-ikutan.
Ia hanya mencatat siapa yang berani tidak ikut.
Wassalam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/SUPORTER-RUSUH-Stadion-BJ-Habibie-Kota-Parepare-Sulawesi-Selatan-k.jpg)