Salam Tribun Timur
Hentikan Ricuh di Stadion
Narasi dalam video itu diperkuat oleh caption yang tajam dan emosional. Pertanyaan besar pun muncul: apakah klarifikasi dan permintaan maaf cukup?
TRIBUN-TIMUR.COM - Puluhan jam setelah kericuhan di Stadion Gelora BJ Habibie, muncul satu video.
Viral di media sosial.
Seorang pemuda tampil dan mengaku sebagai pelaku.
Ia meminta maaf.
Menyatakan penyesalan.
Berjanji tidak mengulangi.
Narasi dalam video itu diperkuat oleh caption yang tajam dan emosional.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah klarifikasi dan permintaan maaf cukup?
Jawabannya: tentu tidak.
Video itu penting sebagai bentuk tanggung jawab personal.
Namun ia belum menyentuh akar persoalan.
Bisa jadi itu memang pengakuan jujur.
Tapi sekaligus membuka masalah yang lebih dalam.
Karena itu berarti pelanggaran bisa terjadi bukan karena niat jahat, melainkan karena hilangnya kesadaran di saat genting.
Namun ada satu hal yang tidak berubah: konsekuensi.
Regulasi Super League dan Kode Disiplin PSSI tetap berlaku.
Denda hingga Rp340 juta mengancam.
Akumulasi sepanjang musim bahkan bisa mencapai Rp1,16 miliar.
Dan semua itu tetap harus dibayar.
Yang membayar bukan pelaku.
Yang menanggung bukan individu.
Yang membayar adalah manajemen PSM, pihak yang justru kerap dicemooh dan diminta bertanggung jawab.
Di sinilah ironi terbesar itu berdiri: kesalahan personal, dibayar secara kolektif.
Namun ironi itu tidak boleh berhenti sebagai keluhan.
Ada satu hal yang harus ditegaskan: aparat penegak hukum tidak boleh berhenti pada video permintaan maaf.
Kasus ini harus diusut tuntas.
Semua yang terlibat, yang masuk lapangan, yang melakukan kekerasan, yang menyalakan flare, yang melempar, harus diidentifikasi dan ditindak.
Tidak boleh ada ruang abu-abu.
Tidak boleh ada pembiaran.
Karena jika pelanggaran dibiarkan, ia akan berubah menjadi kebiasaan.
Dan jika kebiasaan tidak dihentikan, ia akan menjadi budaya.
Stadion bukan wilayah ekstrateritorial.
Ia bukan ruang kebal hukum.
Ia adalah ruang publik yang tunduk pada hukum negara.
Di titik ini, sanksi olahraga saja tidak cukup.
Harus ada penegakan hukum pidana yang nyata.
Berbasis identitas.
Berbasis bukti.
Bukan sekadar pembubaran massa, tetapi penindakan individu.
Karena tanpa itu, tidak akan ada efek jera.
Dan tanpa efek jera, kita hanya sedang menunggu kerusuhan berikutnya.
Hukum tidak boleh berhenti pada penyesalan.
Sepak bola adalah kebanggaan.
Bukan panggung untuk menunjukkan siapa paling nekat.
Jika benar mencintai PSM, maka yang dijaga adalah suasana, bukan dilanggar.
Dan pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: ketika orang lain melangkah ke arah yang salah, apakah kita akan ikut? Atau berhenti?
Karena sejarah tidak mencatat siapa yang ikut-ikutan.
Ia hanya mencatat siapa yang berani tidak ikut.
Wassalam.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/SUPORTER-RUSUH-Stadion-BJ-Habibie-Kota-Parepare-Sulawesi-Selatan-k.jpg)