Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ketika Dunia Kehilangan Kepastian Strategis

Dunia tidak lagi hidup dalam sistem bipolar yang relatif stabil, melainkan memasuki era multipolar yang penuh ketidakpastian strategis.

Tayang:
Ist
Rahmat Sikky, Mahasiswa Magister Departemen Hubungan International Universitas Airlangga  

Oleh: Rahmat Sikky
Mahasiswa Program Magister Hubungan Internasional Universitas Airlangga

TRIBUN-TIMUR.COM - Dunia internasional sedang bergerak menuju fase yang semakin sulit untuk diprediksi.

Jika pada era Perang Dingin ancaman perang nuklir datang dari dua kekuatan besar antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, maka hari ini ancaman tersebut muncul dari sejumlah aktor dengan kepentingan yang jauh lebih kompleks.

Dunia tidak lagi hidup dalam sistem bipolar yang relatif stabil, melainkan memasuki era multipolar yang penuh ketidakpastian strategis.

Dalam situasi seperti ini, stabilitas nuklir yang selama beberapa dekade dianggap mampu mencegah terjadinya perang besar, justru mulai mengalami erosi.

Selama ini, banyak pihak yang percaya bahwa keberadaan senjata nuklir menciptakan perdamaian karena negara-negara akan takut saling menyerang.

Logika ini dikenal sebagai nuclear deterrence, yaitu kondisi ketika ancaman serangan balasan mampu mencegah perang terjadi.

Di era Perang Dingin, logika tersebut memang tampak bekerja karena Amerika Serikat dan Uni Soviet sama-sama memahami bahwa perang nuklir hanya akan berujung pada kehancuran bersama.

Namun stabilitas pada era tersebut bukan semata-mata lahir dari keberadaan senjata nuklir saja, melainkan karena dunia saat itu hanya didominasi oleh dua kekuatan utama dengan trajektori persaingan yang jelas.

Amerika Serikat dan Uni Soviet memahami batas, pola respon, hingga konsekuensi dari setiap eskalasi yang terjadi.

Oleh karena itu, dunia pada era Perang Dingin berada dalam ketegangan, tetapi relatif terprediksi.
Kondisi tersebut berbeda dengan situasi global hari ini.

Munculnya berbagai pusat kekuatan baru seperti Tiongkok, Rusia, Iran, India, hingga Korea Utara telah mengubah struktur politik internasional semakin kompleks.

Persaingan tidak lagi berlangsung secara sederhana antara dua kubu besar, melainkan melibatkan banyak negara dengan kepentingan yang saling bertabrakan.

Aliansi kemudian menjadi lebih cair, rivalitas semakin berlapis, dan kalkulasi strategis menjadi sulit untuk diprediksi.

Dalam situasi seperti itu, kesalahan perhitungan semakin berpotensi untuk terjadi.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran beberapa waktu terakhir telah menunjukkan bagaimana negara dengan kapasitas militer yang tidak seimbang, tetap mampu menciptakan tekanan strategis terhadap kekuatan besar.

Iran mungkin tidak mampu menandingi kekuatan militer Amerika Serikat secara langsung, tetapi kemampuan rudal, drone, dan perang asimetris telah cukup untuk meningkatkan biaya konflik secara signifikan.

Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa deterrence pada era ini tidak lagi bergantung pada siapa yang paling kuat secara absolut.

Dalam banyak kasus, kemampuan menciptakan kerusakan terbatas saja sudah cukup untuk mempengaruhi keputusan lawan.

Akibatnya, semakin banyak negara merasa perlu memiliki kemampuan strategis sendiri demi menjamin keamanan nasional mereka.

Namun, hal itu pula yang semakin mengkhawatirkan.

Ketika negara-negara mulai meragukan perlindungan aliansi internasional, merka akan terdorong untuk membangun kemampuan pertahanan yang lebih mandiri, termasuk kemungkinan untuk mengembangkan senjata nuklir.

Jepang dan Korea Selatan misalnya, mulai menghadapi perdebatan domestik mengenai pentingnya kapasitas deterrence independen di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Asia Timur.

Di Eropa, perang Rusia-Ukraina juga menampilkan bagaimana ancaman keamanan dapat kembali menjadi isu utama dalam politik internasional.

Dengan kata lain, dunia sedang bergerak menuju situasi ketika semakin banyak negara merasa bahwa keamanan tidak lagi dapat sepenuhnya diserahkan pada kekuatan besar atau institusi internasional.

Selain itu, kondisi ini juga diperparah oleh melemahnya rezim pengendalian senjata global.

Sejumlah perjanjian penting seperti INF Treaty, Open Skies Treaty, hingga krisis terhadap kesepakatan nuklir Iran menunjukkan bahwa fondasi arms control (pengenalian senjata) internasional mulai mengalami keretakan serius.

Mekanisme yang selama ini menjaga transparansi dan membatasi perlombaan senjata perlahan kehilangan efektivitasnya.

Oleh karena itu, masalah dunia multipolar bukan sekedar munculnya lebih banyak kekuatan besar, melainkan hilangnya aturan bersama yang dipercaya oleh semua pihak.

Pada era Perang Dingin, dunia setidaknya memiliki pola rivalitas yang jelas.

Hari ini, pola maupun batas-batas tersebut semakin kabur.

Negara-negara besar saling menunjukkan kekuatan, tetapi tanpa kepastian mengenai sejauh mana lawan akan bertindak.

Dalam situasi itu, dunia tidak lagi hidup dalam “perdamaian karena rasa takut”, melainkan bergerak ke arah “ketidakstabilan kerena ketidakpastian”.

Bagi kawasan Asia, situasi ini tentu akan memberikan dampak yang serius.

Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok di Indo-Pasifik, ketegangan di Laut China Selatan, isu Taiwan, hingga meningkatnya modernisasi militer di kawasan menunjukkan bahwa Asia berpotensi menjadi salah satu titik paling rawan dalam kompetisi multipolar global.

Indonesia, termasuk negara-negara ASEAN lainnya, menghadapi tantangan besar untuk menjaga kawasan tetap stabil di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan besar tersebut.

Oleh karena itu, politik luar negeri bebas aktif menjadi semakin penting, bukan hanya sebagai prinsip diplomasi, tetapi juga sebagai strategi untuk menjaga ruang manuver Indonesia dalam dunia yang semakin terfragmentasi.

Pada akhirnya, ancaman terbesar dunia saat ini bukan hanya terkait siapa pemilik senjata yang paling mematikan, tetapi tentang hilangnya kepastian dalam hubungan internasional.

Multipolaritas dunia memang membuka peluang lahirnya keseimbangan baru, namun di lain sisi, tanpa kepercayaan dan mekanisme pengendalian yang kuat, multipolaritas juga dapat menjadi gerbang menuju era ketidakstabilan strategis yang lebih berbahaya dibanding era Perang Dingin.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved