Salam Tribun Timur
Minoritas Aktif Kalahkan Mayoritas Diam
Yang melanggar hanya sedikit. Hanya puluhan orang. Yang diam sangat banyak ribuan, bahkan lebih tujuh ribu.
Akibatnya nyata. Setiap kericuhan berujung biaya. Setiap pelanggaran berbuah denda.
Ratusan juta rupiah telah keluar. Bahkan bisa jadi mendekati miliaran.
Artinya sederhana: ulah segelintir orang membebani seluruh klub. Namun yang kerap disasar tetap satu: manajemen.
Padahal struktur sepak bola telah berubah. Regulasi FIFA dan PSSI menempatkan klub sebagai entitas profesional yang dikelola swasta.
PSM bukan lagi milik publik dalam pengertian lama.
Ia adalah perusahaan yang harus bertahan secara finansial.
Seruan mengganti manajemen, apalagi melalui tekanan seperti itu, bukan solusi.
Itu justru ancaman terhadap keberlanjutan klub.
Ada ironi lain yang tak kalah penting. Kita ingin PSM bermain baik.
Namun kita menciptakan stadion yang membuat pemain cemas.
Kesalahan kecil dibalas cacian. Performa buruk dihukum tanpa ampun.
Kandang yang seharusnya menjadi kekuatan, berubah menjadi tekanan.
Karena itu, persoalan utama bukan pada mereka yang berbuat. Tetapi pada kita yang membiarkan.
Bukan pada kerumunan. Tetapi pada diam yang memberi ruang.
Sepak bola tidak akan runtuh karena satu dua orang melanggar.
Ia runtuh ketika yang benar memilih tidak bersuara.
Jika PSM ingin kuat, maka yang dibutuhkan bukan ancaman. Melainkan kedewasaan.
Dari tribun. Dari kita semua. Wassalam!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/SUPORTER-RUSUH-Stadion-BJ-Habibie-Kota-Parepare-Sulawesi-Selatan-k.jpg)