Opini
Jusuf Kalla dan Kelangkaan Negarawan Indonesia
Dalam situasi seperti itu, sosok Muhammad Jusuf Kalla menjadi menarik untuk dikaji, bukan semata karena jabatan yang pernah diemban.
Oleh: Baharuddin Solongi
TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah meningkatnya polarisasi politik, melemahnya kepercayaan publik terhadap elite, dan menguatnya budaya pencitraan dalam demokrasi modern, Indonesia sesungguhnya sedang mengalami kelangkaan figur negarawan.
Dalam situasi seperti itu, sosok Muhammad Jusuf Kalla menjadi menarik untuk dikaji, bukan semata karena jabatan yang pernah diemban.
Tetapi karena karakter kepemimpinan yang dibangun melalui kerja nyata, kemampuan menyelesaikan konflik, dan keberanian mengambil keputusan.
Jusuf Kalla merupakan contoh langka perpaduan antara pengusaha, politisi, tokoh Islam, aktivis, dan juru damai.
Di Indonesia, tidak banyak tokoh yang mampu bergerak luwes di dunia bisnis, diterima lintas partai politik, dekat dengan kalangan aktivis, sekaligus dipercaya masyarakat internasional dalam proses perdamaian.
Kepercayaan itu tidak lahir secara instan, melainkan terbentuk dari rekam jejak panjang, konsistensi tindakan, dan kemampuan membangun komunikasi dengan berbagai kelompok.
Sebagai pengusaha melalui Kalla Group, Jusuf Kalla menunjukkan bahwa dunia usaha tidak harus terpisah dari kepentingan sosial.
Ia membangun bisnis bukan hanya untuk akumulasi modal, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia yang selama puluhan tahun mengalami ketimpangan pembangunan dibanding Pulau Jawa.
Dalam perspektif pembangunan nasional, langkah seperti ini memiliki makna strategis karena memperkuat pemerataan ekonomi dan membuka ruang tumbuhnya kelas menengah baru di daerah.
Dalam dunia politik, Jusuf Kalla dikenal bukan sebagai politisi retoris, melainkan politisi pekerja.
Ia lebih dikenal karena kemampuan menyelesaikan masalah dibanding membangun pencitraan. Gaya komunikasinya lugas, cepat, dan langsung pada inti persoalan.
Di tengah budaya politik yang semakin dipenuhi simbol dan narasi populisme, karakter seperti ini menjadi semakin langka.
Kehebatan terbesar Jusuf Kalla justru terlihat dalam perannya sebagai juru damai. Konflik Poso, Maluku, dan Aceh merupakan luka sosial-politik yang sangat berat bagi Indonesia.
Namun melalui pendekatan dialog dan negosiasi, Jusuf Kalla mampu membangun ruang kompromi di tengah situasi yang sangat sensitif.
Helsinki Peace Agreement menjadi salah satu warisan penting dalam sejarah perdamaian Indonesia modern.
Perdamaian Aceh menunjukkan bahwa pendekatan kemanusiaan dan komunikasi sering kali lebih efektif dibanding dominasi kekuatan semata.
Sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia, Jusuf Kalla juga memperlihatkan pandangan keislaman yang moderat dan produktif.
Baginya, masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, dan penguatan persatuan sosial.
Pandangan ini penting di tengah tantangan meningkatnya politisasi agama dan menguatnya narasi ekstremisme di ruang publik.
Sementara melalui kepemimpinannya di Palang Merah Indonesia, ia menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati diuji saat bangsa menghadapi bencana dan krisis kemanusiaan.
Kecepatan respons, kemampuan mobilisasi relawan, dan pendekatan kemanusiaan yang inklusif menjadi kekuatan utama yang terus melekat pada dirinya.
Di kalangan aktivis, khususnya keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam, Jusuf Kalla dikenal sebagai figur senior yang dermawan, sederhana, dan terbuka membantu kader muda.
Dalam tradisi kepemimpinan Indonesia, sikap seperti ini memiliki nilai moral yang sangat penting karena menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus menciptakan jarak sosial dengan masyarakat.
Yang membuat Jusuf Kalla berbeda adalah kesederhanaannya. Di tengah banyak elite yang membangun citra berlebihan, ia tampil apa adanya.
Sikap rendah hati, religius, dan dekat dengan masyarakat membuatnya tetap dihormati bahkan setelah tidak lagi berada dalam pusat kekuasaan formal.
Pengaruhnya tidak semata berasal dari jabatan, tetapi dari kepercayaan sosial yang dibangun selama puluhan tahun.
Indonesia hari ini sesungguhnya membutuhkan lebih banyak figur seperti Jusuf Kalla: pemimpin yang mampu bekerja lintas kelompok, tidak mudah terjebak polarisasi, dan mengutamakan solusi dibanding sensasi politik.
Sebab bangsa besar tidak hanya membutuhkan penguasa, tetapi juga negarawan yang mampu menjaga persatuan, kemanusiaan, dan masa depan bangsa dengan akal sehat serta keteladanan moral. Selamat Ulang Tahun Pak JK. Wassalam
| Krisis Pengangguran Terdidik dan Perubahan Makna Pendidikan |
|
|---|
| Demokrasi dan Nama Keluarga |
|
|---|
| Artikulasi Samar, Meritokrasi Kabur: Ketika Nilai Kehilangan Kompas |
|
|---|
| 'Pesta Babi', Potret Krisis Ekologis dan Kemanusiaan Tanah Papua |
|
|---|
| Urgensi Integrasi Data Kematian di Makassar: Menghapus Anomali 'Arwah' dalam Daftar Pemilih |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/26032026_Baharuddin-Solongi.jpg)