Opini
Partai Golkar Sulsel dan DNA Kekuasaan
Partai Golkar selalu memiliki karakter berbeda dibandingkan sebagian besar partai politik nasional lainnya.
Kekuatan politik seperti itu menurut Pierre Bourdieu terbentuk melalui kombinasi modal politik, modal sosial, dan modal ekonomi yang saling menopang dalam proses reproduksi kekuasaan elite.
Kombinasi ketiga modal tersebutlah yang membuat Golkar mampu mempertahankan dominasi politiknya di Sulawesi Selatan selama waktu yang sangat panjang dan relatif stabil.
Realitas Pemilu 2024 akhirnya memperlihatkan bahwa struktur kekuasaan yang menopang Golkar Sulsel mulai mengalami keretakan cukup serius dalam beberapa tahun terakhir.
Partai Golkar tampak kehilangan hegemoni dan kemampuan strategis untuk tetap menjadi pusat utama konsolidasi elite politik di daerah ini.
Salah satu analisis untuk memahami realitas Partai Golkar di Sulsel tersebut adalah menggunakan perspektif Antonio Gramsci yang menyebut bahwa hegemoni politik hanya dapat dipertahankan apabila sebuah kekuatan politik mampu menjaga kepemimpinan sosial di tengah jaringan elite dan masyarakat secara bersamaan.
Ketika elite mulai terfragmentasi dan berpindah ke berbagai kendaraan politik baru, maka hegemoni partai dominan secara perlahan akan mengalami pelemahan struktural yang sulit dihindari.
Fenomena tersebut terlihat cukup jelas dalam situasi politik Golkar Sulsel menjelang dan sesudah Pemilu 2024 berlangsung.
Elite politik lokal kini semakin tersebar ke berbagai partai politik dan tidak lagi terkonsentrasi secara dominan di bawah struktur Partai Golkar seperti periode-periode sebelumnya.
Dalam situasi politik yang semakin kompetitif saat ini, Golkar tidak cukup hanya mengandalkan nostalgia sejarah sebagai partai besar dengan pengalaman panjang kekuasaan nasional.
Politik lokal Sulawesi Selatan masih bekerja melalui logika patronase, personalisasi kepemimpinan, dan konsolidasi elite berbasis kekuasaan nyata dalam pemerintahan daerah.
Oleh sebab itu, Partai Golkar membutuhkan figur pemimpin yang memiliki legitimasi elektoral kuat sekaligus akses langsung terhadap pusat-pusat kekuasaan politik dan ekonomi nasional.
Dalam berbagai pandangan pakar sosilogi dan politik tersebut, kebutuhan menghadirkan kepala daerah aktif sebagai pemimpin Golkar Sulsel menjadi sangat relevan dan strategis untuk masa depan partai.
John Sidel melalui teori local bossism menjelaskan bahwa politik lokal di Asia Tenggara termasuk di Sulsel tentunya, sering ditentukan figur yang mampu menggabungkan kekuasaan administratif, pengaruh sosial, dan sumber daya ekonomi secara bersamaan.
Kepala daerah aktif memiliki seluruh instrumen tersebut karena mereka menguasai birokrasi pemerintahan, simbol kekuasaan, jaringan sosial masyarakat, dan akses terhadap distribusi sumber daya politik daerah.
Selain legitimasi politik dan kekuasaan administratif, faktor modal ekonomi juga menjadi unsur yang semakin menentukan dalam politik demokrasi modern Indonesia saat ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-21-Muhammad-Fadli-Noor.jpg)