Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Dari Guru Honorer ke Dosen: Melihat Pendidikan dari Dua Dunia

Sebagai guru honorer, saya pernah memahami bagaimana rasanya bekerja dengan penuh tanggung jawab tetapi tanpa kepastian yang layak.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Nur Afiaty Mursalim Dosen Prodi D4 Promosi Kesehatan FIKK UNM 

Kita ingin menciptakan generasi sehat, kritis, dan produktif, tetapi sering lupa memastikan bahwa ekosistem pendidiknya sendiri juga sehat.

Kita berbicara tentang kesehatan mental mahasiswa, tetapi masih banyak tenaga pendidik yang hidup dalam tekanan kerja dan ketidakpastian karier.

Kita menggaungkan pembangunan sumber daya manusia, tetapi terlalu sering membiarkan para pendidiknya bertahan sendirian.

Pengalaman berpindah dari guru honorer menjadi dosen membuat saya melihat bahwa pendidikan di Indonesia tidak hanya menghadapi masalah kurikulum atau fasilitas, tetapi juga
persoalan penghargaan terhadap manusia yang menjalankan pendidikan itu sendiri.

Dalam banyak kasus, negara terlihat sangat ambisius membangun generasi masa depan, tetapi belum cukup serius membangun kesejahteraan dan martabat para pendidiknya.

Situasi ini sebenarnya memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar isu profesi.

Ketika tenaga pendidik hidup dalam tekanan ekonomi dan sosial yang berkepanjangan, maka kualitas lingkungan belajar ikut terdampak.

Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga soal energi emosional yang dibawa seorang guru atau dosen ke dalam ruang belajar.

Sulit berharap pendidikan melahirkan generasi yang sehat secara mental jika para pendidiknya sendiri terus dipaksa bertahan dalam kelelahan yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, kondisi ini juga berkaitan dengan perilaku coping yang berkembang di lingkungan pendidikan.

Tidak sedikit guru, tenaga kependidikan, bahkan mahasiswa yang akhirnya menjadikan rokok, konsumsi kafein berlebihan, atau pola hidup tidak sehat lainnya sebagai cara bertahan dari tekanan sehari-hari.

Kita sering menyalahkan individu atas perilaku kesehatannya, tetapi jarang bertanya: lingkungan seperti apa yang sedang mereka hadapi?

Saya percaya bahwa pendidikan tetap menjadi jalan penting untuk perubahan sosial.

Namun pendidikan tidak bisa terus dibangun hanya dengan meminta pengorbanan moral dari para pendidiknya.

Pengabdian memang penting, tetapi pengabdian tidak boleh dijadikan alasan untuk menormalisasi ketidakadilan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved