Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Memperjuangkan Asesmen Nasional Pendidikan yang Berkelanjutan

Indonesia seringkali mengganti bentuk ujian, tetapi belum benar-benar serius membangun ekosistem asesmen yang matang.

Tayang:
Ist
OPINI - Muhammad Suryadi R, Peneliti Parametric Development Center 

Kita penting membaca perbedaan ANBK dan TKA.

ANBK sebetulnya dirancang sebagai instrumen diagnosis mutu pendidikan, dengan fokus pada literasi, numerasi, dan lingkungan belajar.

Pendekatan ini relatif progresif, sebab tidak menempatkan siswa sebagai objek tekanan ujian berisiko tinggi.

Hanya saja, kelemahan terbesar ANBK terletak pada tindak lanjut.

Banyak sekolah menerima data hasil asesmen, tetapi belum memiliki kapasitas untuk mengolahnya menjadi strategi peningkatan mutu.

Sebaliknya, TKA cenderung menempatkan capaian akademik individu sebagai fokus utama.

Dari satu sisi, hal ini membantu pemetaan kemampuan siswa secara personal.

Tetapi di lain sisi, TKA juga berpotensi menghidupkan kembali budaya ujian berisiko tinggi.

Jika hasil tes menjadi penentu masa depan akademik siswa, maka sekolah akan kembali terjebak pada fenomena teaching to the test atau mengajar demi skor, bukan untuk pemahaman.

Jika tidak dirancang hati-hati, TKA justru menjadi langkah mundur dari semangat reformasi asesmen yang lebih proporsional.

Problem sesungguhnya adalah kedua kebijakan itu lahir dari ekosistem asesmen yang belum selesai dibenahi.

Indonesia belum memiliki filsafat asesmen nasional yang kuat.

Misalnya, apakah asesmen ditujukan untuk seleksi, pengendalian mutu, diagnosis pembelajaran, atau akuntabilitas sekolah?

Kemendesakan Roadmap Nasional

Kondisi ini kian mendedahkan betapa mendesaknya bangsa kita merancang roadmap asesmen pendidikan nasional yang berkelanjutan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved