Klakson Abdul Karim
Tentang Akal Manusia dan Binatang
Baik sains maupun agama (khususnya Islam) sama-sama menunjuk “akal” sebagai pembeda pokok yang mendasar antara manusia dan binatang.
Jangan-jangan hanya karena kita bisa makan-minum lalu merasa sebagai manusia?
Binatang juga makan dan minum bukan?
Atau jangan-jangan hanya karena kita dapat mencari makan hingga kita merasa manusia?
Tapi bukankah binatang juga pandai mencari makanan pula?
Lantas, dengan apa kita disebut manusia?
Baik sains maupun agama (khususnya Islam) sama-sama menunjuk “akal” sebagai pembeda pokok yang mendasar antara manusia dan binatang.
Dalam pandangan sains, khususnya neurosains dan psikologi kognitif, “akal” didefinisikan sebagai kemampuan berpikir kompleks yang dihasilkan dari aktivitas biologis dan elektrokimia otak manusia.
Kalimat “Kemampuan berfikir” disitu memaknakan bahwa “akal” bukanlah organ material.
Ia sesuatu yang abstrak, namun nyata terasa.
Dalam Islam, akal didefinisikan sebagai daya rohaniah yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia untuk memahami, menganalisis, serta membedakan antara yang benar (haq) dan yang salah (batil).
Akal berfungsi untuk memperoleh ilmu dan membimbing manusia menuju kebaikan.
“Daya rohaniah”, “memahami”, dan “menganalisis” diatas menunjukkan pula bahwa “akal” bukanlah organ material.
Ibnu Sina mempertegasnya lagi, bahwa akal adalah substansi rohaniah.
Secara etimologis akal berakar dari kata “al-imsak” yang berarti mengikat/menahan.
Fungsi akal dalam pengertian ini sebagai tali pengikat atau pengendali abstarak yang menahan manusia dari dorongan hawa nafsu yang menyesatkan dan perilaku tercela.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-9.jpg)