Klakson Abdul Karim
Tentang Akal Manusia dan Binatang
Baik sains maupun agama (khususnya Islam) sama-sama menunjuk “akal” sebagai pembeda pokok yang mendasar antara manusia dan binatang.
“Sebagai tali pengikat” diatas menunjukkan bahwa manusia punya potensi kuat bersifat buas, bringas, liar dan anatagonis.
Akallah yang menahan/mengikat potensi sifat negatif itu sekaligus mengarahkannya agar manusia berlaku baik.
Dan inilah yang membedakan manusia dengan binatang.
Binatang tak dibekali “al-imsak” (pengendali), itu karenanya binatang punya watak dasar liar, bringas, tak jinak dan posisinya jauh dibawah level manusia.
Namun bila manusia bringas, tak terkendali seringkali diassosiasikan sebagai binatang.
Mengapa? Karena akalnya tak berfungsi.
Dengan mengaktifkan akallah manusia menjadi manusia, bukan sebagai binatang.
Al-Qur’an telah menyampaikannya.
Kata akal dalam Al-Qur’an disebut kurang lebih 49 kali sebagai “kata kerja” yaitu ‘aqala, ya’qilun, ‘aqalu, ta’qilun, na’qilu, dan ya’qilu.
Penyebutan akal sebagai kata kerja bermakna bahwa akal harus diaktifkan—difungsikan sebagaimana seharusnya.
Lalu bagaimana cara mengaktifkan akal?
Akal harus diusahakan menyerap sumber-sumber kebenaran, sumber kebaikan dan moral.
Solusinya adalah pelajarilah kitab suci keyakinanmu, kitab kebudayaanmu, dan kitab kebangsaanmu, sebab disitu tertera kebenaran, kebaikan, dan moralitas dengan terang.
Dengan demikian, indikator keberfungsian atau aktifasi akal bukanlah kecerdasan.
Sebab kecerdasan adalah produk otak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abdul-Karim-Ketua-Dewas-LAPAR-Sulsel-Majelis-Demokrasi-Humaniora-9.jpg)