Opini
Menagih Janji Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922 bukan sekadar mendirikan sekolah, tetapi ia juga menancapkan sebuah manifesto
Ia harus menjadi momentum untuk mengaudit diri sejauh mana kita, sebagai bangsa, telah memenuhi janji kepada Ki Hadjar Dewantara dan kepada generasi penerus.
Oleh sebab itu tak lupa penulis mengetengahkan beberapa janji yang mendesak untuk segera ditunaikan yaitu Pertama, pemerataan akses digital yang sungguh-sungguh. Infrastruktur internet harus menjangkau 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), bukan hanya terkonsentrasi di perkotaan.
Tanpa pemerataan tersebut, transformasi digital hanyalah ilusi yang memperlebar kesenjangan. Kedua, penghargaan nyata kepada pendidik.
Pendidik adalah ujung tombak pendidikan sosok yang paling menghidupkan nilai-nilai Ki Hadjar Dewantara setiap harinya.
Tanpa kesejahteraan yang memadai, sulit mengharapkan dedikasi yang optimal. Janji perbaikan nasib pendidik harus diwujudkan, bukan terus ditunda.
Ketiga, pendidikan karakter dan literasi digital sebagai prioritas. Di tengah tsunami informasi, kemampuan berpikir kritis, bijak bermedia sosial, dan tidak mudah terpapar hoaks harus menjadi kompetensi dasar yang diajarkan sejak dini.
Ki Hadjar Dewantara pernah berkata bahwa kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajah, tetapi soal menjadi manusia yang merdeka secara batin, mandiri, dan berbudaya.
Di era digital, kemerdekaan itu perlu diartikan ulang, merdeka dari kebodohan informasi, merdeka dari jerat algoritma yang memecah belah, dan merdeka untuk menggunakan teknologi sebagai alat pembebasan bukan perbudakan baru.
Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 bukan saatnya kita berpuas diri dengan capaian yang ada.
Tetapi membuat momen yang tepat untuk menagih janji-janji yang belum terbayar kepada Ki Hadjar Dewantara, kepada jutaan anak bangsa yang masih berjuang mendapatkan pendidikan berkualitas, dan kepada masa depan Indonesia yang sedang kita titipkan kepada generasi hari ini.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga kita tidak hanya mewarisi sebuah semboyan semata, tetapi bagaimana spirit dan semangat ajaran Ki Hadjar Dewantara dapat terealisasi bahwa sejatinya pendidikan adalah yang memerdekakan, dan memanusiakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-02-Andi-Taufiq-Nur-Ilmi.jpg)