Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Menagih Janji Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa pada tahun 1922 bukan sekadar mendirikan sekolah, tetapi ia juga menancapkan sebuah manifesto

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/ist
OPINI - Andi Taufiq Nur Ilmi Dosen Pendidikan Kepelatihan Olahraga UNISMUH Makassar 

Ditambah lagi dengan kehadiran pendidik ASN (PPPK) yang menggeser keberadaan sebagian pendidik yang berstatus honor diakibatkan diterimanya sarjana-sarjana non pendidikan yang mengikuti PPG sehingga kesenjangan kesejahteraan dikalangan tenaga pendidik sangat terasa dan tidak adil.

Inilah warisan yang belum kita lunasi kepada Ki Hadjar Dewantara.

Kini kita hidup di era digital yang bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terbayangkan oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), platform pembelajaran daring, perpustakaan digital, hingga konten edukatif di media sosial telah mengubah wajah pendidikan secara dramatis.

Era digital datang membawa dua wajah sekaligus. Di satu sisi, ia adalah demokratisasi pengetahuan yang luar biasa, perpustakaan raksasa yang bisa diakses oleh siapa saja. Kemudian, ia juga memperdalam jurang yang sudah ada.

Mereka yang tidak memiliki akses internet, tidak mampu membeli gawai layak, atau tinggal di wilayah tanpa sinyal, justru semakin tertinggal.

Digital divide kesenjangan digital adalah ketidakadilan baru yang wajah dan namanya berbeda, namun rohnya sama dengan yang pernah dilawan oleh Ki Hadjar Dewantara.

Lebih jauh, era digital juga memunculkan ancaman yang belum pernah diperhitungkan sebelumnya derasnya arus disinformasi, hoaks, konten tidak edukatif, hingga potensi kecanduan digital yang menggerogoti konsentrasi dan kesehatan mental generasi muda.

Jika dulu penjajahan merenggut hak belajar anak-anak pribumi, kini algoritma media sosial yang tidak bertanggung jawab berpotensi merenggut perhatian dan akal sehat mereka.

Menariknya, ketika kita membaca ulang gagasan-gagasan Ki Hadjar Dewantara, kita menemukan relevansinya justru semakin tajam di era digital ini.

Konsep among yang menempatkan pendidik sebagai pamong, bukan pemegang otoritas tunggal sangat selaras dengan spirit pembelajaran konstruktif di era digital, di mana murid aktif membangun pengetahuannya sendiri melalui eksplorasi.

Prinsip tut wuri handayani pun menemukan maknanya yang baru, pendidik dan orang tua tidak lagi bisa dan tidak seharusnya  menjadi satu-satunya sumber ilmu.

Peran mereka kini lebih krusial sebagai pembimbing navigasi yang membantu anak-anak memilah mana informasi yang sahih, mana yang sampah, mana penggunaan teknologi yang produktif, dan mana yang merusak.

Namun ini mensyaratkan satu hal yang masih menjadi tugas kita bersama yaitu literasi digital pendidik.

Bagaimana seorang pamong bisa membimbing muridnya menavigasi dunia digital, jika sang pamong sendiri masih gamang menghadapi teknologi, transformasi digital pendidikan tidak akan bermakna jika hanya berhenti pada pengadaan gawai dan pembangunan infrastruktur tanpa disertai peningkatan kapasitas pendidik yang menyeluruh dan berkelanjutan.

Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 semestinya menjadi lebih dari sekadar upacara bendera.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved