Opini Amir Muhiddin
Donald Trump, Aku Tidak Takut
Perdana Menteri Pedro Sanchez menyebut perang itu ilegal dan melanggar hukum internasional.
Narasi mengenai Donald Trump yang dianggap “mengkhianati” rakyatnya dalam konteks perang Amerika-Iran tahun 2026 berkaitan erat dengan gelombang protes besar di Amerika Serikat.
Sejumlah laporan dan perkembangan terbaru hingga April 2026 menyebut bahwa Jutaan rakyat Amerika Serikat melakukan protes besar-besaran (seperti aksi “No Kings”) di berbagai kota seperti New York dan Los Angeles.
Mereka mendesak Trump menghentikan agresi ke Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026.
Bukan hanya dalam negeri, di mata internasional, AS mengalamai degradasi politik sehingga nyaris terisolasi dan dikepung oleh musuh bahkan sekutunya sendiri.
Sejumlah negara Eropa dan sekutu utama AS secara terbuka menyatakan menolak keterlibatan militer dalam konflik terbaru di Timur Tengah, khususnya terkait perang melawan Iran yang berlangsung sejak Maret-April 2026.
Spanyol adalah negara yang paling tegas, menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer AS yang terlibat dalam konflik dan melarang penggunaan pangkalan militer bersama (seperti Stasiun Angkatan Laut Rota dan Pangkalan Udara Moron) untuk tujuan perang.
Perdana Menteri Pedro Sanchez menyebut perang itu ilegal dan melanggar hukum internasional.
Prancis juga menolak memberi izin bagi pesawat AS pembawa pasokan militer untuk melintasi wilayah udaranya dan menolak mengirim kapal perang ke Selat Hormuz sebagai bagian dari misi pimpinan AS.
Presiden Emmanuel Macron menyebut pentingnya deeskalasi melalui jalur diplomatik.
Jerman, salah satu yang memiliki populasi Yahudi terbesar di dunia, justru menyebut bahwa tindakan militer AS adalah sebuah “kesalahan politik” dan menolak berpartisipasi dalam operasi di Selat Hormuz, alasannya karena misi tersebut bukan merupakan mandat NATO.
Hal yang sama dilakukan oleh Italia, negara ini pun menolak memberikan izin mendarat bagi pembom AS di pangkalan udara Sigonella di Sisilia untuk operasi terkait Iran dan menyatakan tidak akan terlibat dalam aksi militer di kawasan itu.
Inggris, yang selama ini menjadi sekutu setia AS dan tetap menjalin diskusi teknis, namun Perdana Menteri Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris tidak ingin ditarik ke dalam “perang orang lain” dan menekankan bahwa operasi tersebut bukan misi NATO.
Belanda justru memilih fokus pada keamanan navigasi daripada konfrontasi bersenjata.
Petinggi Belanda ragu akan efektivitas operasi militer.
Sementara itu Swiss dan Austria yang selama ini disebut sebagai negara netral, keduanya secara ketat menolak semua permintaan izin melintas (overflight) terkait konflik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Amir-Muhiddin-75.jpg)