Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Save Our Planet: Ditengah Rapuhnya Gencatan Senjata

Bumi tempat kita berpijak, adalah sebuah ekosistem global yang sejatinya menjadi milik kita semua yang hidup diatas planet ini.

Tribun-timur.com/ist
OPINI - Djusdil Akrim, Praktisi Industri dan Pemerhati Lingkungan. 

Konflik bukan hanya soal batas negara, tapi soal siapa yang mengontrol hubungan manusia dengan alam – energi, air, tanah, pangan.

Dan korban atau aktornya bukan cuma manusia, tapi juga ekosistem.

Laporan Global Peace Index 2025 & Ecological Threat Report 2025 menyebut perdamaian global menurun karena kombinasi: ketegangan geopolitik berupa militerisasi dan rapuhnya ekonomi serta ancaman ekologi seperti kelangkaan air, pangan, dan cuaca ekstrem.

Daerah dengan musim hujan-kering ekstrem cenderung punya angka kematian akibat konflik lebih tinggi.

Selanjutnya Proyek Ecologies of Violence menunjukkan bahwa perang menciptakan “keterkaitan” manusia dan non-manusia yang bertahan lama: tanah tercemar, logam, racun, air, udara, ideologi.

Ini jadi slow violence yang merusak lingkungan dan memperparah konflik sosial-politik.

Jadi damai tidak bisa dicapai hanya dengan gencatan senjata, tapi juga pemulihan ekosistem.

Pada puncaknya kita diperhadapkan pada situasi bahwa konflik geopolitik equivalen dengan konflik ekologi sosial.

Pakta konflik seperti perang Rusia-Ukraina, ketegangan Laut China Selatan, atau konflik di Timur Tengah sekarang punya dimensi ekologi yang kuat.

Political ecology & “Gramscian political ecology” menyebut ini transition conflicts – perebutan hegemoni di ranah hubungan masyarakat-alam saat krisis ekologi terjadi.

Sebagai contoh nyata konflik Energi dan pangan memicu Perang Rusia-Ukraina, dimana ekspor gandum dan pupuk terganggu.

Akibatnya krisis pangan di Afrika & Amerika Latin, yang tentu lalu memicu ketidakstabilan sosial-politik.

Sedangkan konflik Air dan migrasi berupa degradasi sumber air dan runtuhnya model agraria berbasis minyak jadi faktor struktural perang Suriah, lalu memicu migrasi besar. 

Fenomena “The Kings” sebagai Malapetaka

Urgensi hubungan timbal balik manusia dengan lingkungan alam dan sosialnya. Merupakan suatu keniscayaan.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved