Opini
Save Our Planet: Ditengah Rapuhnya Gencatan Senjata
Bumi tempat kita berpijak, adalah sebuah ekosistem global yang sejatinya menjadi milik kita semua yang hidup diatas planet ini.
Repleksi Peringatan Hari Bumi 22 April
Oleh: Djusdil Akrim
Praktisi Industri dan Pemerhati Lingkungan
TRIBUN-TIMUR.COM - Bumi tempat kita berpijak, adalah sebuah ekosistem global yang sejatinya menjadi milik kita semua yang hidup diatas planet ini.
Persamaan hak azazi manusia (HAM) bukan sebatas legitimasi.
Tapi memang harus dijunjung tinggi oleh setiap bangsa yang menghormati dan mengklaim diri memiliki peradaban.
Karenanya istilah dominasi, hegemoni atau “super power”, sebenarnya tidak pantas ada ruang setapak pun dimuka bumi ini.
Tapi sejarah mencatat praktik-praktik kolonialisme sudah ada sejak Abad ke 17 bahkan jauh sebelumnya.
Namun puncaknya setelah pecah Perang Dunia terjadi.
Naluri saling menguasai, menindas bahkan membunuh serta menjadikan warga sipil menjadi obyek.
Berwujud sebagai martil hidup dipertontonkan tanpa rasa kemanusiaan.
Kini sejarah itu terus berulang dan berulang.
Nilai-nilai humanisme hanya ada diruang diskusi publik atau dalam narasi pasal-pasal kemanusiaan yang kehilangan taji.
Sejalan dengan peringatan Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April.
Perlu ada renungan dan repleksi sejenak tentang eksistensi kita sebagai mahluk di planet yang bernama BUMI ini.
Perspektif Human Ecology
Berdasarkan perspektif human ecology, bahwa pakta konflik geopolitik hari ini adalah wujud tarik-menarik antara model ekstraktif lama versus tuntutan keberlanjutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-21-Djusdil-Akrim.jpg)