Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Sleep Training dan Bayi yang Tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan

Namun pagi datang dengan keheningan yang tidak biasa. Bayi itu tidak lagi terbangun.

Tayang:
Editor: Ansar
Tribun-timur.com
TRIBUN OPINI - Dr. Elinda Rizkasari,.S.Pd.,M.Pd Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta. 

Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, metode ini kerap dipahami secara parsial.

Banyak orang tua hanya memperoleh potongan informasi dari media sosial, tanpa memahami batasan usia, durasi tangisan yang aman, maupun tanda bahaya yang harus diwaspadai.

Tangisan Bayi Bukan Sekadar Gangguan

Dalam perspektif ilmu perkembangan anak, tangisan bukanlah masalah yang harus segera “dihentikan”, melainkan bentuk komunikasi paling awal yang dimiliki bayi.

Melalui tangisan, bayi menyampaikan rasa lapar, tidak nyaman, takut, atau sekadar kebutuhan akan kelekatan.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa respons yang cepat dan konsisten dari orang tua terhadap tangisan bayi berperan penting dalam membangun rasa aman.

Rasa aman ini menjadi fondasi bagi perkembangan emosi dan hubungan sosial di masa depan.

Sebaliknya, ketika tangisan dibiarkan terlalu lama tanpa respons, bayi dapat mengalami peningkatan stres
yang berdampak pada sistem regulasi emosinya.

Dengan demikian, membiarkan bayi menangis bukan sekadar persoalan metode tidur, melainkan menyangkut proses pembentukan rasa aman yang sangat mendasar.

Bahaya “Copy-Paste Parenting

Fenomena ini memperlihatkan kecenderungan yang semakin menguat di era digital, yakni praktik copy-paste parenting.

Metode yang berkembang di negara lain sering kali diadopsi begitu saja, tanpa mempertimbangkan perbedaan konteks budaya, sistem kesehatan, maupun kesiapan orang tua.

Padahal, di negara asalnya, sleep training tidak dilakukan secara sembarangan.

Ia dijalankan dengan panduan yang jelas, mempertimbangkan usia bayi, kondisi medis, serta sering kali disertai pendampingan tenaga profesional.

Ketika semua prasyarat ini diabaikan, metode yang semula dirancang sebagai pendekatan terukur dapat berubah menjadi praktik yang
berisiko.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved