Kante
Boleh dikata, kala itu, Kante, berpenghasilan sekitar 5,1 Miliar perpekan, atau setara 20,4 Miliar sebulan
Oleh
Juanto Avol
N'GOLO Kante namanya, dahulu ia sebagai seorang pemungut sampah. Ia juga seorang muslim yang taat berkebangsaan Prancis. Usianya sekitar 30 tahun, perawakan sederhana.
Siapa sangka, jika Tuhan berkehendak, semua bisa terjadi. Diangkat derajatnya, namun tak lupa diri, tetap dalam balutan hidup sederhana. Padahal jika dia mau, apa pun bisa dibeli, semua dia gapai, sekali tekan e-Banking, terwujud.
Boleh dikata, kala itu, Kante, berpenghasilan sekitar 5,1 Miliar perpekan, atau setara 20,4 Miliar sebulan. Kendaraan yang dipakainya pun jauh dari kemewahan, bahkan dibelinya dengan kondisi omprengan, bekas, tak baru lagi. Mobil sekelas mini cooper, kondisi baru, sebenarnya bisa dia beli 59 biji dalam sebulan. Namun lagi, dia tetap dalam kesahajaannya.
Beberapa fakta berbeda di era digital kaum milenial dan genrasi Z, seringkali kita jumpai, kemegahan bermewah menjadi "ketuhanan" dalam sosial.
Nampak, beberapa deratan artis, pengacara, youtuber, Neoveau Riche (orang kaya baru), pengusaha atau bahkan kebetulan dinikahi sang miliarder, tak canggung mempertontonkan gemerlapnya kilau harta.
Sebenarnya, walau berpamer itu wajar bagi sang kaya sebagai motivasi, tetapi sebagain orang menilai tak bijak. Sebab itu lebih dekat dari keria'an.
Harta, tahta, kadang membuat sumringah namun sering pula bukanlah barang yang menyenangkan, melainkan ujian kehidupan.
Dalam pandangan agama, bahwa dia kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sumbernya akan ditanyai dari dua arah, dari mana meraihnya dan kemana penggunaannya?
Percayalah, kekayaan bisa sebagai ujian, cobaan, jalan menuju surga dan jua berpotensi sebagai jalur petaka.
Tapi nampak tidak dengan si Kante, pemuda berkulit tak putih itu tetap "bercahaya", dia tak silau dengan gemerlapnya kemewahan, hatinya begitu kaya, dia bahkan terlihat tetap sebagai "pemulung", yah pemulung kebaikan.
Topeng
Jika dilihat lebih dalam, sungguh dia special pilihan Tuhan, yang sering kali diundang bertamu di rumahNya, Masjid.
Saban hari, dia pernah ditanya, tentang pilihan hidup. Penting mana, agama atau bola? Dengan enteng dia jawab, Agama.
Baginya, agama adalah jalan kehidupan, personal privat, petunjuk ketaqwaan. Sedangkan bola hanyalah permainan hoby.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260507-Juanto-Avol-Komisioner-Bawaslu-Gowa.jpg)