Opini
Menimbang Ulang MBG dalam Perspektif Efektivitas Kebijakan
Capaian ini menunjukkan bahwa intervensi gizi dalam beberapa tahun terakhir mulai membuahkan hasil.
Keberatan terhadap bantuan tunai kerap didasarkan pada kekhawatiran penyalahgunaan. Namun, berbagai pengalaman empiris menunjukkan bahwa kekhawatiran ini seringkali berlebihan.
Pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Indonesia menunjukkan bahwa bantuan tunai justru meningkatkan akses layanan kesehatan, memperbaiki konsumsi rumah tangga, dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Dengan desain yang tepat, bantuan tunai dapat menjadi instrumen yang efektif, bukan sumber masalah.
Di sisi lain, sejumlah kajian menunjukkan bahwa persoalan gizi di Indonesia tidak semata terletak pada keterbatasan akses pangan, tetapi juga pada pola konsumsi dan literasi gizi.
Dalam banyak kasus, keluarga memiliki akses terhadap bahan pangan, tetapi tidak mengonsumsinya secara seimbang. Faktor kebiasaan, pengetahuan, dan preferensi memainkan peran besar.
Hal ini menunjukkan bahwa intervensi berupa penyediaan makanan saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah.
Pendekatan yang lebih efektif adalah kombinasi antara dukungan ekonomi, edukasi gizi, dan akses layanan kesehatan.
Dalam kerangka ini, bantuan tunai yang disertai edukasi dan monitoring justru lebih berpotensi menyentuh akar persoalan dibanding sekadar distribusi makanan.
Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah distribusi manfaat ekonomi. Program MBG berbasis pengadaan makanan berpotensi memusatkan manfaat pada penyedia atau vendor tertentu, terutama dalam skala besar.
Sebaliknya, bantuan yang diberikan langsung kepada keluarga akan beredar di pasar lokal, menggerakkan pedagang kecil, petani, dan nelayan.
Dengan demikian, kebijakan gizi tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga pada penguatan ekonomi masyarakat.
Argumen bahwa bantuan tunai sulit diawasi juga semakin kehilangan relevansi dalam konteks teknologi saat ini.
Pemerintah memiliki kapasitas untuk menyalurkan bantuan secara non-tunai, mengintegrasikan data dengan sistem pendidikan dan kesehatan, serta memantau penggunaan secara lebih transparan.
Bahkan, dalam banyak kasus, sistem digital menawarkan akuntabilitas yang lebih tinggi dibanding distribusi barang fisik yang kompleks.
Karena itu, penguangkan MBG tidak perlu dipahami sebagai penggantian total. Pendekatan yang lebih rasional adalah model hibrida dan adaptif—menggabungkan bantuan tunai bersyarat, intervensi khusus bagi kelompok rentan, serta penyediaan makanan di wilayah tertentu yang membutuhkan pendekatan berbeda.
Apalagi pemerintah menargetkan penurunan stunting hingga sekitar 14 persen dalam jangka menengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-04-14-Andi-Dahrul-Dosen-STIEM-Bongaya-Makassar.jpg)