Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mengukur Efektivitas Kebijakan Work From Home atau WFH

Pertama, konsumsi energi di gedung pemerintahan cukup tinggi, terutama untuk listrik dan pendingin ruangan.

Tayang: | Diperbarui:
Ist
OPINI - Dr. Ir. N. Tri Suswanto Saptadi, S.Kom., MT., MM., IPM. Dosen Universitas Atma Jaya Makassar (UAJM), Tim Komkep KAMS / Koord. ISKA Wilayah Sulawesi, Ketua IKDKI Wilayah SulSelTraBar 

Penggunaan teknologi digital membutuhkan keterampilan tertentu, sehingga diperlukan pelatihan dan pendampingan agar dapat beradaptasi dengan sistem kerja.

Tantangan yang lain adalah pengawasan kinerja.

Dalam sistem kerja konvensional, kehadiran fisik sering kali dijadikan indikator disiplin.

Sistem WFH mensyaratkan penilaian kinerja harus berbasis output dan hasil kerja.

Diperlukan sistem evaluasi transparan dan objektif.

Terdapat potensi penurunan kualitas koordinasi antarpegawai.

Komunikasi virtual tidak selalu menggantikan interaksi langsung, terutama untuk diskusi yang kompleks.

Diperlukan strategi komunikasi efektif dan proaktif untuk memastikan koordinasi tetap berjalan dengan baik.

Dampak terhadap Lingkungan dan Sosial

Dampak positif yang paling signifikan dari kebijakan WFH adalah pengurangan emisi karbon.

Melalui berkurangnya perjalanan harian ASN, konsumsi bahan bakar kendaraan dapat ditekan, sehingga mengurangi polusi udara.

Hal ini sangat penting, terutama di kota besar yang memiliki tingkat polusi tinggi.

Kebijakan ini juga dapat mengurangi kepadatan lalu lintas.

Melalui upaya lebih sedikit kendaraan di jalan setiap hari Jumat, kemacetan dapat berkurang, yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi waktu dan kualitas hidup masyarakat.

Dari sisi sosial, WFH memberikan kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved