Opini Amir Muhiddin
Rakyat, antara Mendukung dan Menolak Perang: Mencermati Fenomena Perang Amerika-Israel Versus Iran
Dalam konteks AS, rakyat seakan memperlihatkan bahwa merekalah yang berkuasa dan pemegang daulat negara.
Demontsrasi yang berlangsung secara nasional di kota-kota besar AS akhir maret lalu merupakan bagian dari rangkaian protes berkelanjutan terhadap gaya kepemimpinan dan kebijakan Presiden Donald Trump.
Demonstrasi tanggal 28 Maret 2026 lalu merupakan puncak dimana jutaan warga turun ke jalan di lebih dari 3.300 titik di 50 negara bagian.
Diperkirakan tidak kurang dari 8 juta orang dan disebut-sebut sebagai salah satu gelombang protes terbesar dalam sejarah AS.
Mereka menolak kebijakan otoriter dan ancaman terhadap demokrasi.
Mereka protes keras terhadap keterlibatan militer atau kebijakan luar negeri AS dalam konflik dengan Iran.
Selain itu mereka juga menuntut pemakzulan (impeachment) terhadap Presiden Trump.
Rakyat Amerika yang cerdas menganggap bahwa perang dengan Iran adalah tindakan yang keliru, urgensinya tidak jelas.
Hasil survai menunjukkan bahwa 66 persen warga AS ingin perang dihentikan tanpa memedulikan menang atau kalah.
Ada ketakutan akan keterlibatan dalam konflik berkepanjangan yang tidak jelas ujungnya di Timur Tengah.
Pemerintahan Trump juga dinilai memberikan alasan yang berubah-ubah mengenai pemicu konflik, menyebabkan ketidakpercayaan publik.
Ada kekhawatiran juga bahwa perang akan merusak kebijakan ekonomi domestik dan stabilitas internasional yang dijalankan AS.
Ketakutan akan balasan Iran terhadap situs-situs AS dan sekutunya di wilayah Teluk, serta potensi perang yang meluas.
Beberapa hasil survai di atas memberi gambaran betapa masyarakat, baik di AS maupun di Israel sangat menentang perang, mereka sadar bahwa perang tidak akan pernah menyelesaikan masalah, malah sebaliknya menimbulkan krisis ekonomi global dan kemanusiaan, kita berharap dan mendukung gerakan masyarakat civil sebagai kelompok penekan (pressure group) dan sebagai "rem darurat".
Karena mereka meskipun tidak memegang senjata, tetapi memegang suara yang mudah-mudahan di dengar oleh Trump dan Netanyahu. Semoga!(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Amir-Muhiddin-75.jpg)