Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Halalbihalal? Katanya Bid’ah

Halalbihalal adalah tradisi keagamaan khas Indonesia setelah Idulfitri yang bertujuan mempererat silaturahmi di antara yang hadir.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Muammar Bakry Rektor UIM 

Oleh: Muammar Bakry

Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) 

TRIBUN-TIMUR.COM - Di dunia manapun, termasuk negara di mana lahir Agama Islam atau negara yang mayoritas berpenduduk muslim terutama negara-negara arab, tidak mengenal istilah “halalbihalal”, demikian pula tidak ditemukan istilah itu dalam literatur keislaman klasik.

Halalbihalal adalah tradisi keagamaan khas Indonesia setelah Idulfitri yang bertujuan mempererat silaturahmi di antara yang hadir.

Biasanya dilakukan oleh keluarga besar yang jarang bertemu, komunitas paguyuban, teman alumni, teman kantoran, sekolah dan lain-lain.

Mereka yang tidak menangkap substansi dari kegiatan ini, selalu mengedepankan pemahaman tekstual melihat segalanya berdasar pada dalil ada tidaknya kegiatan ini Nabi lakukan.

Sangat sederhana mereka berasumsi, bahwa jika Nabi tidak lakukan berarti perbuatan itu sesat, dan jika itu baik pasti sahabat melakukannya. 

Mereka lupa bahwa dalam agama ada dikenal ‘urf atau al-‘adah, biasa diartikan tradisi.

Dari kata ‘urf inilah, ada kata “ma’ruf” yang berarti kebaikan yang hidup di tengah masyarakat, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Derivasi kata “ma’ruf” ditemukan puluhan jumlahnya dalam al-Qur’an.

Selain ayat-ayat al-Qur’an yang demikian banyak menjelaskan tentang ‘urf dan ma’ruf, Nabi juga pernah menyampaikan bahwa apa yang dianggap oleh orang Islam itu baik, maka Allah menganggapnya sebagai kebaikan.

Itu artinya kegiatan-kegiatan sosial keagamaan masuk dalam ranah syiar Islam, sangat dinamis dan fleksibel, bukan dalam ranah syariah atau akidah yang sudah pakem formulasinya.

Mengaburkan poin ini atau tidak jeli melihat sisi perbedaannya, menjadi awal kekacauan berfikir secara substantif. 

Jika ditelusuri sejarahnya, pasca kemerdekaan 1948, Bung Karno mengamati hiruk pikuk perpolitikan yang ada.

Berbagai kepentingan politik dikhawatirkan mengakibatkan gesekan di antara anak bangsa yang diharapkan membangun “bayi” Indonesia.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
1 - 1
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
2 - 2
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved